Panggilan Sayang

09 Februari



  
Sambil menunggu giliran bimbingan tesis, saya tentu saja memainkan hp. Satu persatu media sosial saya kunjungi. Sampai akhirnya, saat membuka Path, saya melihat salah satu postingan teman atau lebih tepatnya seorang kakak yang saya kenal. Postingannya seperti gambar yang saya jadikan header di tulisan ini.

Sebagai pelengkap caption dari gambarnya yang diunggahnya itu, dia menceritakan nama panggilan yang diberikan oleh suaminya. Lengkap dengan bagaimana reaksinya terhadap panggilan kesayangan itu.

Saat melihat postingan tersebut, saya sebenarnya langsung sadar bahwa saya juga mempunyai nama panggilan kesayangan juga dari zaujiy. Makanya akhirnya postingan tersebut langsung saya save lalu bagikan di IG. 

*waktu bimbingan tiba*

Sore ini, setelah bimbingan yang (sebut saja) lancar, saya merasa butuh menghadiahkan diri saya sendiri sebuah waktu yang saya sukai. Tapi karena sudah terlalu sore dan tak sedang ingin makan apa-apa, (karena memang saya sering kali menghadiahi diri saya sendiri dengan makanan-makanan yang saya sukai) jadilah saya memutuskan untuk menikmati Chattime. Minuman yang saya sukai tapi tidak sering-sering saya minum. Jangan tanya kenapa. Alasannya cuma satu : Tidak sehat... di kantong anak kostan :D

Saya duduk dipojok ruangan kecilnya sambil menikmati bagaimana Hazelnut Milk Tea with Coffee Jelly-nya menyenangkan diri saya. Tapi rasanya ini saja tidak cukup. Saya buka laptop, lalu mulai menuliskan rangkaian kalimat-kalimat ini.

***************** 

Tentang Nama Kesayangan
Saya dan zaujiy punya nama panggilan kesayangan. Saya akan bercerita banyak tapi mulai dari nol dulu ya..

Tentang Kata Sapaan
Saya dibesarkan dikeluarga yang menjunjung tinggi kata sapaan. Apalagi untuk keorang yang lebih tua. Tabu bagi kami untuk langsung memanggil para saudara, sepupu, ataupun siapa saja yang terpaut umur lebih tua hanya dengan namanya. Kami wajib menambahkan kata “kakak” didepan nama mereka. Kaka (tanpa K, terdengar lebih alami)  Nila, Kaka Musram, Kaka Sari, adalah contohnya. Ke yang lebih mudah, kata adik (atau biasa “ade”) juga sering mengikut didepan nama mereka. Adek Uwa, Adek Cila, Adek Zaim.

Gara-gara itu, hampir setiap kenalan saya yang memang lebih tua, selalu saya usahakan memanggilnya dengan kata sapaan. Bisa dengan Kak, Bang, ataupun Kakak. Itu hadir sebagai rasa keharusan, terlebih pada orang-orang yang memang saya segani.

Dari itu juga, sejak awal saya bersama zaujiy, sulit bagi saya untuk memanggilnya dengan langsung namanya. Beberapa bulan pertama memang bisa, tapi semakin lama semakin terasa janggal bagi saya. Apalagi saya memang menghargai sebagai orang yang saya “segani” meski statusnya adalah masih pacar, saat itu. 

Makanya, saya mulai memikirkan sapaan yang tepat saya sematkan untuk memanggilnya. Saya cukup bingung awalnya. Mau panggil “Kak Sandy” terkesan beda umur jauh sekali, padahal kami cuma terpaut tiga bulan. Mau panggil “Bang Sandy” , lebih tidak mungkin, panggilan ini tidak awam di Kendari. Sebagai solusinya, saya panggil saja “sayang”. Hahaha.

Tapi kan tidak mungkin ya kalau sedang dirumahku atau dirumahnya apalagi didepan teman-teman kami dulu, saya memanggilnya terus-terusan dengan “sayang”. Alay laaaah. Pasti dibilang sok mesra. Sampai akhirnya entah bagaimana bisa, saya memanggil zaujiy dengan “mas” Hahaha. Ini lucu sih. Dia menolak mentah-mentah tapi tetap saja menjawab panggilan saya saat saya memanggilnya “mas” didepan orang lain.

Panggilan Kesayangan Saya ke Zaujiy
Saya tahu, saat itu zaujiy tidak nyaman dengan panggilan "mas". Ya karena kami berdua bukan keturunan Jawa, sama sekali. Akhirnya saya coba cari panggilan lain. Pernah saya panggil “Sansan”, mirip-mirip dengan namanya “Sandy”. Juga pernah saya memanggilnya “Joojoo”, dari kata “kojo” yang artinya kurus. Hahaha. Ini lucu juga sih, tapi yah entah kenapa tidak ada ide lain yang nyangkut diotak saya saat itu.

Makin lama, zaujiy makin akrab sama orang rumah. Adik-adik dan sepupu saya memanggilnya dengan “Kaka Sandy”. Akhirnya saya ikut-ikut memanggilnya begitu, sampai sekarang. Yah terkesan cocok saja dengan saya yang sering dipanggil “Kaka Kiki”. Maksa ya? :p Juga "Kaka Sandy" ini lebih santai tapi tetap dapat manja-manjanya.. hihi

Setelah menikah, saya mulai cari lagi nama sapaan yang cocok untuk zaujiy. Saya sempat mengajukan “abisan” dan “ayasan”. Zaujiy sebenarnya tidak menolak, tapi ya kok rasanya belum tepat ya waktunya, hehe.. Mungkin nanti, saat kami sudah dipercaya untuk memiliki anak, zaujiy akan dipanggil dengan “Abii” atau “Ayah”. Jadilah sekarang saya memanggilnya tetap dengan “Kaka Sandy”, in case kalau sedang bersama orang lain.

Panggilan Kesayangan Zaujiy ke Saya
Dulu saat MTs, SMA, kuliah S1 saya disapa dengan “Eqii” oleh teman-teman. Hanya keluarga besar yang memanggil saya dengan “Kiki”. Berkenalan dengan zaujiy pun, saat itu, dengan nama “Eqii”. Tapi setelah beberapa bulan, dia akhirnya memutuskan untuk memanggil saya dengan “Kiki”. Lebih “dekat”, katanya. Saya sih tidak masalah sama sekali. Toh baik Eqii ataupun Kiki, both is my nick name.
 
Saat saya mulai tidak lagi memanggilnya dengan “sansan” lalu “joojoo”, zaujiy malah menemukan nama kesayangan untuk saya. Lucu sih namanya tapi saya suka-suka saja. “Pon” nama saya khusus dari zaujiy, sejak saat itu sampai sekarang, saat saya sudah menjadi istrinya.

Kenapa “pon?” Rasanya ini tidak ingin saya tulis. Hahaha, terlalu personal kisahnya. Sederhana memang, tapi yang pasti saya suka dipanggil dengan nama ini. Unik dan lebih intim. Karena spesial dari zaujiy untuk saya. 

Saya juga suka akhirnya zaujiy menemukan nama yang nyaman versinya untuk memanggil saya didepan orang lain. Karena sepertinya, dia juga tidak terbiasa untuk memanggil saya cuma dengan “Kiki”.. 

Orang rumah pun kadang memanggil saya dengan “Pon”, terutama Ibu. Untuk menggoda saya atau apalah. Tapi karena memang saya suka, ya sudah. Tidak apa-apa. 

***********************

Tidak terasa saya jadi bercerita banyak. Meski terlihat sangat curhat, tapi saya menikmati prosesnya yang mengalir begitu saja. :D

Matahari sudah hampir sampai diujung. Saatnya menghabiskan si minuman favorit, lalu kembali ke kostan. Semoga malam ini saya tidak begadang (lagi) seperti beberapa minggu terakhir. Besok lah baru tesis-an lagi.. 


Oh iya, nama panggilan kesayanganmu apa, kawans? :D



You Might Also Like

8 comments

  1. Ihiiyy, banyaknya panggilan sayangnya ke pak Zaujiy ya Ki.

    Klo saya apa di? Pak Suami-ku bukan tipe yg romantis. Klo ndk ada orang lain sih kami saling memanggil "sayang" tapi klo bersama orang Bliau panggil Mama :D

    BalasHapus
  2. hehe, zaujiy dia kayakya tertular virus sok romantis ku kak.. wkwkw

    mdh2an saya segera nyusul juga dipanggil Mama ky qt kak :D

    BalasHapus
  3. Dengan panggilan sayang saja sudah senang ya, saya juga menerapkan di bbm kontaknya saya beri nama "mama sayang" he...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, hal-hal sederhana juga bisa bikin senang.. Istrinya jga pasti senang ya mas diromantis-in begitu :D

      Hapus
  4. kalo kami sejak memproklamirkan diri berpacaran, papanya Wahyu sudah memintaku memanggilnya dengan panggilan kesayangan, katanya biar lebih akrab hihihi. Jadilah sejak saat itu saya memanggilnya dengan "honey" (jadi mirip Mario Teguh, lol) & dia memanggilku "ibu"

    panggilan kesayangan itu masih kami terapkan hingga kini, hehehe

    tiba-tiba jadi terinspirasi mau buat postingan senada deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Romantisnya pake "Honey" kak >.< alhamdulillah sampe sekarang ddi ^^

      yuhuu kak, ditunggu cerita honey-ibu-an nya :D

      Hapus
  5. Aku jawa mb..di rumah, sejak kecil ortu n tetangga manggilnya denok atau mbak denok. Suamiku ikut itu.. Denok.. Jd berasa kecil terus☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, lucu juga mbak, sampe gede masih berasa kecil terus :D seneng pasti ya :D

      Hapus