Cerita Feeling, Kecopetan, dan Ganti Kartu Hp

25 Februari


Rabu lalu, saya memulai hari seperti biasanya, sedikit terlambat bangun lalu terburu-buru menuju kekampus. Setelah beberapa alat tempur kampus sudah masuk ke tas, giliran kedua handphone saya menyusul. Entah kenapa ada keinginan untuk mengubah letak handphone. Biasanya, hp yang disebut smartphone,saya simpan dilaci bagian luar, lalu feature phone or basic phone dibagian dalam. Hari itu saya ada keinginan untuk menukar keduanya. Lalu bergegas meninggalkan kostan.

Angkot yang saya tumpangi cuma terisi dua penumpang. Masing-masing: dibelakang sopir dan dikursi pendek dekat pintu. Saya yang terakhir naik, memilih duduk dikursi panjang, sedikit berjarak dari penumpang yang diduduk dibelakang sopir. Keduanya lalu turun bersamaan didepan gerbang pintu unit bahasa ITB. Dari awal naik, tas ransel saya tetap dipunggung. Alasannya adalah karena saya merasa kerepotan untuk memindahkannya kedepan seperti biasa, karena tangan saya juga memegang tas jinjing berisi alat tempur lainnya. Selain itu saya merasa aman-aman saja, toh dibelakang saya tidak ada siapa-siapa.

Setelah dua penumpang tersebut turun, tiba-tiba seorang ibu menghentikan laju kendaraan angkot yang saya tumpangi dengan mengetuk bagian belakang mobil tersebut. Saat melihat ibu itu, dalam hati saya cukup aneh. Soalnya ibu itu memakai jilbab syari tapi dipasangkan dengan celana panjang. Terkesan tidak cocok, menurut saya. Ibu tersebut langsung duduk dibelakang saya.  Saya membatin, kenapa harus dibelakang saya ya? padahal tempat didepan kosong semua. Tanpa jeda setelah membatin tersebut, saya menipis sendiri kekhawatiran saya. Saya lanjut membatin, "astagfirullah, kenapa zuudzon kenapa orang lain ya?" sambil berpindah tempat duduk semakin kedepan, lalu turun dari angkot. Karena jarak dari turunnya dua penumpang tadi dan naiknya ibu tersebut sangat dekat. Semuanya cuma berkisar 3 menit.

Setelah turun, langsung saja saya menuju lab. Sesampai dilab, saya langsung membuka tas untuk mengambil handphone seperti biasa, karena harus langsung menghubungi zaujiy. Saya lalu kaget tas saya sudah dalam keadaan terbuka. Saya lalu mencoba memastikan barang apa yang hilang dari tas tersebut. Ternyata satu handphone saya hilang. Syukurnya bukan yang smartphone.  Meskipun begitu, tetap saja saya merasa sedih. Dua nomer saya yang terdaftar dalam mobile banking ada dihp tersebut. Ahhh.. Tapi, apa itu petanda dari feeling yang saya rasakan sebelum kekampus ya?

Saat saya sadar bahwa saya menjadi korban pencopetan, saya langsung meminjam hp teman untuk menghubungi nomor hp saya untuk mengecek. Beberapa kali masuk dan tidak dijawab, beberapa kali direject, terakhir malah sudah tidak aktif. Saya langsung mengabari zaujiy dan keluarga. Selain itu, saya juga meng-share peristiwa tersebut di bbm dan facebook, sebagai antisipasi jangan sampai orang yang mengambil hp saya tersebut, yang kemungkinan besar adalah ibu yang diangkot tadi, menghubungi kontak-kontak yang ada hp saya lalu meminta transferan uang, pulsa, dll. Belakangan saya tahu ada beberapa yang sempat dimintai pulsa. Huuhuhu.. Setelah itu, saya menghubungi call centre bank, untuk memblokir/menghapus fitur mobile banking saya yang terdaftar melalui kedua nomor tersebut.




Meskipun jumlah kehilangan saya terbilang kecil, hanya sebuah hp basic, tapi tetap saja ini menjadi pengalaman buruk saya dikota orang. Namun dibalik itu, selebihnya saya bersyukur dikirimkan semacam firasat untuk menukar posisi hp saya ditas. Kalau tidak, mungkin smartphone, hadiah zaujiy di setahun pernikahan kami, yang hilang. Juga saya bersyukur mengambil langkah untuk pindah tempat duduk saat diangkot tersebut, jadi cuma satu hp saya yang berhasil diambil. Seandainya lebih lama, mungkin hp dan dompet saya bisa ikut terambil juga karena ketiganya berada dilaci tas yang sama. Huhuhu, Terimakasih ya Allah..

Malam harinya, saya coba kembali untuk menempon kedua nomor hp saya, hasilnya masih sama : tidak aktif. Dan mungkin memang tidak akan diaktifkan lagi. Jadi saya memutuskan untuk ke Grapari Telkomsel, besok harinya untuk menganti kartu hp saya tersebut. Berikut langkah yang saya tempuh:

#1 Mendatangi Grapari
Karena kedua kartu yan tersemat dalam hp saya yang hilang adalah Telkomsel, maka saya harus ke Grapari. Saya memilih datang ke cabang Dago. Kenapa? Karena CS-nya banyak, jadi waktu tunggunya lebih singkat. Terbukti, saya cuma menunggu sekitar semenit, lalu nomor antrian saya dipanggil. :) Selain itu, cabang ini juga buka 24 jam. :D Jarang yang seperti ini..

Bangunan Klasik
#2 Senyum, Jawab Pertanyaan lalu Berterimakasih.
CS Telkomsel menyapa dengan manis, lalu menanyakan keperluan saya. Saya ceritakan bahwa mau mengganti dua kartu, karena kartu yang lama hilang bersama hp saya. CS cuma meminta KTP lalu menyamakan beberapa informasi. Disinilah pentingnya melakukan registrasi dengan data yang benar. Setelah terkonfimasi semua data cocok, saya diminta menandatangi form persetujuan pengajuan kartu baru. Lalu sekitar sepuluh menit kemudian, dua kartu dengan nomor sesuai dengan nomor hp saya yang hilang kemarin sudah siap. And its FREE at all. Good Job Telkomsel. Terimakasih kemudahannya.


 #3 Beli Hp Baru
Karena nomor saya sudah bisa digunakan lagi, mau tidak mau saya harus punya hp untuk memasang keduanya. Saya akhirnya memutuskan membeli hp Polytron C249. Kenapa? Karena terbilang terjangkau, cuma 250K. Dan sejujurnya, saya jatuh cinta pada warnanya. Like falling in love at the first sight. Hihi..:p


Alhamdulillah, sekarang kedua no hp yang sempat hilang sudah bisa saya gunakan kembali. Semoga peristiwa-peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi. Tetap waspada dimana saja, terlebih dikendaraan umum. Kita tidak tahu siapa saja mereka. :) Saya juga sudah mengikhlas hp tersebut hilang. Kecil dan besarnya nilainya semoga dimanfaatkan dengan baik bagi yang mengambilnya. Anggap saja mungkin karena saya kurang sedekah :)

You Might Also Like

4 comments

  1. gak ada kehilangan yang terasa enak yaa Dek, sekecil apapun nilainya :(

    semoga nanti diganti dengan yang berlipat nilainya, aaminn..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak.. betul. apalagi pas sadar pertama kali, huhuhu..

      aamiin kak, makasih :*

      Hapus
  2. Wah, semacam dapat teguran gitu ya, untung sudah ditukar tempatnya dan Alhamdulillah sudah dapat penggantinya juta :D
    Anyway salam kenal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya Mba. dikirimi sinyal :D

      salam kenal balik Mba.. makaish sudah mampir^^

      Hapus