Terbebas!

18 Januari

Source
Ada rasa senang dan bahagia yang saya rasakan saat ini. Sayangnya saya terlalu, mungkin kata yang pas adalah munafk untuk mengakuinya. Tapi disisi lain saya ingin ini tetap terekspresikan. Maka, rentetan kalimat dilayar ini adalah tempat saya yang pilih. Meskipun takkan jelas apa dan siapa sebenarnya para-para mereka dalam kisah ini.

******

Dulu, saya sempat akrab dengannya. Selain kita berada ditempat melakukan kegiatan yang sama, kami juga terpaut hubungan yang sedemikian kebetulannya bisa pas. Waktu berlalu. Kedekatan yang ada perlahan mengalir menjauh. Tak ada lagi sapaan meski cuma sekilas. Parahnya, tidak hanya sampai disitu. Kami malah harus berbagi cerita dibelakang dengan saling membenarkan posisi masing-masing. 

Selanjutnya, kami melakoni peran masing-masing. Bertumbuh dan berurusan dengan hal-hal yang tidak sama. Tidak ada rasa penyesalan, setidaknya bagi saya, terlebih mungkin dengan dia. Ya, urusanku urusanku, urusannya urusannya. Begitu saja sudah cukup. Sampai akhirnya, saya menghadirkannya dalam doa-doa saya. Bukan karena saya tiba-tiba menjadi baik padanya, hanya saja saya butuh kerja sama darinya agar hal yang sedang diupayakan saat itu menjadi mulus jalannya. Bagiku, semoga baginya juga.

Waktu bergulir tanpa jeda. Yang diupayakan telah berhasil sempurna. Sebut saja sempurna, karena telah terlaksana. Bagaimana a b c yang mengiringinya biarlah tersimpan pada masing-masing. Versi yang berbeda pun tak mengapa. Toh sudah selesai semuanya. 

Yang terjadi kemudian adalah saya menyebutnya dirinya selangkah lebih maju. Dua langkah bahkan. Atau malah lebih. Baiklah, berapa langkahpun, yang pasti dia didepan dalam satu hal. Hal yang juga saya usahakan. Saya menata hati untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya sedang tidak iri. Alhamdulillah berhasil. Semulus itu kah? Tidak. Tapi baiknya saya telan saja sendiri. Mungkin memang pahit, tapi sepertinya itu lebih baik. Justru dengan demikian, saya seperti sedang mengobati diri sendiri.

Sampai akhirnya sesuatu hadir merubah pola yang sudah ada. Dia semacam suntikan terakhir dari rentetan obat-obat yang akhirnya berhasil menyembuhkan. Ah, terimakasih wahai sesuatu. Dengannya, rasanya yang lalu-lalu itu musnah. Berganti dengan sesuatu yang lebih baik dan siap dipelihara supaya semakin tumbuh. Dengannya, ikhlas lebih terasa. Dengannya memberi terasa menyenangkan. Yang terpenting, dengannya meyakinkan kita semua bahwa bersama dengan senyuman tulus lebih membahagiakan. Terimakasih💗

Saya bahagia telah terbebas dari belenggu perasaan masa lalu! YEY!

You Might Also Like

4 comments

  1. Tulus dan ikhlas memang susah tapi tetep bisa kalo udah niat Mbak :)
    salam kenal :)

    BalasHapus
  2. Iya Mbak, Alhamdulillah bisa..
    Makasih mba udah melipir kesini.. hehe.. ^^ Salam Kenal ^^

    BalasHapus
  3. ikut senang membaca tulisan yang ini. terbebas dari belenggu masa lalu memang sesuatu yang sangat membahagiakan. Saya pun pernah di posisi itu :)

    terus semangat yaa say :)

    BalasHapus
  4. Hehe iye kak, Alhamdulillah. Bahagia, sudah tidak ada beban, sm tidak ada lagi sungkan-sungkan yg kemarin2 sempat ada.. :)

    iye kak, qt juga semangat kk say :)

    BalasHapus