Pergi Lebih Dulu

20 Januari


Dalam beberapa kali pillow talk dan disela-sela waktu kosong berdua dengan zaujiy, pernah saya menanyakannya satu hal yang menurut sebagian besar orang, termasuk dirinya adalah tabu. Makanya, setiap kali saya menanyakan hal tersebut, zauijy hanya menimpali dengan diam, lalu mendaratkan lengannya untuk melingkari sisi tubuh saya yang mudah digapainya sambil berkata "Ndak usah bicarakan tentu itu deh,sayang".

Kalimat pendek yang tidak terjawab itu adalah tentang kematian. Saya katakan padanya, jika suatu saat nanti ajal menemui kami, saya ingin sayalah yang dipanggil duluan. "Sayang, sa ingin mati duluan dari pada kita". (Kita adalah kata ganti kamu versi lebih sopan dalam dialeg Sulawesi). Itu lah kalimat yang tidak pernah ingin dijawab apalagi dibahasnya lebih panjang. Meski begitu, sekali waktu, saya  melanjutkan "Saya tidak tau bagaimana kalau harus memulai semuanya tanpa kita'.." Saat kalimat itu selesai, zaujiy buru-buru mengganti topik pembicaraan sambil melabuhkan pelukan hangat.

Saya sebenarnya mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Karena yakin kematian akan sampai pada siapa saja. Pada kita semua. Pada kami berdua. Dan keinginan pergi lebih dahulu selalu menjadi keinginan kecil diantara keinginan besar tentang kematian itu sendiri, yakni meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Aamin.

Saya tidak bisa membayangkan jika harus memulai hari-hari yang tidak lagi lengkap dengan kehadirannya. Yang pasti terasa hampa tanpa suaranya. Dan segala hal yang lain tanpa sosoknya. Zaujiy adalah orang yang saya pilih untuk kehidupan saya. Saya memilihnya dan begitu pula sebaliknya. Berbeda dengan orang tua, saudara, keluarga lain, bahkan anak yang InsyaAllah Allah titipkan kepada saya kelak. Mereka semua dipilihkan Allah untuk saya tanpa mengenal mereka lebih dahulu. Sedang zaujiy, terlepas dari ketetapan Allah mengenai jodoh, tapi saya mengenalnya lebih dulu, mempercayainya untuk bisa sama-sama saya dulu, lalu mengambil keputusan untuk saling melengkapi dan berpartner mengarungi setiap tahapan kehidupan berikutnya bersamanya.

Lantas bagaimana saya harus menata hati jika saya kelak kehilangannya. Ah belum-belum saya sudah ngeri sendiri. Makanya setiap kali membayangkan itu, saya selalu berharap tidak merasakannya.

Sekarang kembali lagi kami menjalani LDM. Sulit rasanya. Semoga ini segera berakhir. Supaya saya bisa terus berada diradius yang tak begitu jauh darinya. Menghirup udara yang tak berbeda dengannya. Bersamanya memijak hari demi minggu demi bulan demi tahun yang pasti akan berakhir. Mempersiapkan semua hal yang terbaik agar sekiranya saat saya pergi duluan, atau siapapun yang pergi dulu, kami akan saling menunggu di depan pintu surga. InsyaAllah. Aamiin Allahumma Aamiin.

You Might Also Like

4 comments

  1. :'( duh kok sedih
    kiyy aku suka makan yang mentah tapi memang nggak semua yang mentah enak, tergantung pengolahan
    dulu sebelum tahu sushi tei non halal aku doyan banget sushi mentahnya sushitei sih... yang miyabi lumayan tp masih tetep dibawah sushi tei. punya sushitei lebih fresh. kemudian aku ketemu sushi halal homemade delivery jakarta namanya kotakuhikari ahhh itu enak banget dan ngejuu tapi semuanya mateng gak ada yang mentah haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sedih2 yuk :D

      ini gegara postinganmu aku jadi serius pengen coba yang mentah loh, hihi.. pengen rasaian sensasiny, aku coba cari dibandung ah :D

      Hapus
  2. amin... moga2 cepet berkumpul ya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah. Makasiih doanya Mbak :)

      Hapus