Dimana Sebenarnya Kampung Halaman Saya?

26 Januari

Random from Google

Saya baru saja selesai membaca postingan Kak Ira tentang kampung halaman yang baru saja di updatenya. Katanya cerita itu merupakan setoran untuk memenuhi project 1M1C, alias 1 Minggu 1 Cerita. Saya jadi tertarik dengan project ini. Saya coba googling dan mendapati akun twitter project ini. Sayangnya, link untuk pendaftarannya sudah tidak bisa diakses. Sudah saya coba menanyakan hal ini via mentions belum ada juga jawabannya. Ya sudahlah, saya coba tetap untuk menulis. Anggap saja sebagai ajaang untuk belajar menulis lebih baik. Mari kita tuntaskan :)


Tentang Kampung Halaman
Berbicara tentang kampung halaman, yang menjadi bayangan saya adalah tempat kita lahir, menghabiskan masa kecil, tempat merajut banyak memori dan tempat yang pastinya dirindukan untuk pulang. Setidaknya begitulah bagi saya. Tapi saya jadi terheran sendiri. Kalau itu syarat mutlaknya, maka sebenarnya saya tidak punya kampung halaman dong, atau justru saya punya banyak kampung halaman. Bingung? Saya juga😅


Saya coba cari via kamus online apa arti kampung halaman itu. Yang saya dapat bahwa, kampung halaman adalah daerah atau desa tempat kelahiran. Mirip dengan versi saya diatas ya, jika ditambah dengan tempat menghabiskan masa kecil. Kalau seperti itu, harusnya kampung halaman saya adalah sebuah kota yang sekarang sudah kembali ke nama awalnya, Makassar. Waktu saya lahir di tahun 1990 dulu, secara administratif  kota itu sedang bernama Ujung Pandang.

Kota ini adalah tempat ayah dan ibu saya bertemu. Ayah saya yang saat itu menjadi penghuni kost milik Emmi (Nenek) dan Kakek akhirnya menikah dengan Ibu, anak ibu kost. Mereka lalu tinggal disana sampai saya berumur sekitar setahun lebih. Lalu, memutuskan untuk merantau ke Kendari.

Mereka atau lebih tepatnya ayah mencoba peruntungan untuk mencari kerja di ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Jadi karena memang saya masih bayi saat itu, saya sama sekali tidak punya kenangan sendiri tentang tempat kelahiran saya ini. Saya cuma bisa melihat jejak kenangan yang ditinggalkan ibu dan ayah saya dari sebuah album foto. Ada gambar saya, yang saat itu sedang dihamilkan ibu, foto saya bergelang kaki saat belajar jalan, sampai foto ulang tahun pertama saya yang dirayakan disebuah rumah panggung khas bugis bersama ayah, ibu, dan teman-temannya. Benar-benar cuma itu yang tersisa.

Tapi, beberapa kali ke Makassar tidak serta merta mebuat perasaan saya seperti pulang. Justru saya merasa asing. Sebab kakek dan nenek saya pun ikut hijrah ke Kendari saat itu. Ditambah keluarga-keluarga lain lebih banyak di Bone. Jadilah, saya merasa asing di kota kelahiran saya sendiri. Kota kelahiran tenyata bukan selalu kampung halaman, ya?

Akhirnya di Kendari
Setelah hijrah ayah dan ibu saya ke Kendari, akhirnya mereka memilih untuk menetap disana. Selain karena ayah yang sudah mendapat pekerjaan saat itu, Emmi dan Kakek juga menyusul dari Makassar. Menjadi warga Sulawesi Tenggara juga menjadi pilihan mereka. Meski sebenarnya mereka bukan di Kendari, melainkan di Ladongi, Kolaka Timur. Sebuah kampung sekitar 5 jam perjalanan dari Kendari kalau saat ini. Dulu? Lebih segitu pasti.

Saya menghabiskan masa balita di Kendari. Lagi-lagi saya tidak punya kenangan sendiri saat itu, yang katanya masa-masa sulit bagi orang tua saya. Harus tinggal dirumah kontrakan dengan berbagai keterbatasan.

Menjadi Warga Bogor
Kisah masa kecil yang saya ingat justru ada di kota Bogor. Waktu itu, ayah memboyong ibu, saya dan adik saya ke Kota Hujan itu dalam rangka kuliah pascasarjananya di IPB. Yang saya ingat, saya menghabiskan dua tahapan TK disana, TK Nol kecil dan TK Nol besar. Jelas dalam ingatan, bagaimana saya tiap hari dijemput menggunakan becak bersama teman saya, Tantri. Juga bagaimana saya melakukan kunjungan ke Taman Safari, bermain dimall dan taman sekitar kampus ayah. Sampai akhirnya kami pulang kembali ke Kendari, beberapa saat setelah acara perpisahan di TK Sitya dan ayah sudah menyelesaikan S2nya.

Dari Kota ke Pelosok
Pulang saat itu sebenarnya bukan ke Kendari, tapi ditempat Emmi dan Kakek di Ladongi. Setelah bersekolah di kota cukup besar, saya melanjutkan di pelosok desa. Cukup ekstrim ya. Ibu dan ayah terpaksa menitipkan dulu saya disana dengan berbagai pertimbangan.

Disana saya menghabiskan sebagian masa SD saya dengan bahagia. Menjadi cucu termuda adalah penyebabnya. Kalau tante dan sepupu saya  harus diberi telur ayam untuk dijual, lalu uangnya menjadi uang jajan mereka, saya tidak perlu. Lembaran uang seratus menjadi jatah uang jajan dari Kakek. Sepulang sekolah saya ikut Kakek, Emmi dan lainnya ke kebun untuk memetik cokelat. Biasanya, saat sudah bosan, saya akan minta dipetikkan kelapa muda. Saya juga sering ikut kalau Kakek dan Emmi pergi menjual cokelat yang sudah dikeringkan. Baunya khas sekali. Apek tapi tidak bikin pusing.

Buah cokelat kering dan pohon cokelat comot dari google


Saat sore hari, Kakek biasanya memanen tebu untuk saya dan sepupu-sepupu lain. Juga terkadang mencabutkan ubi alias singkong untuk digoreng dan disantap dengan lombok kental yang terbuat dari ubi juga. Saya juga ingat bagaimana saya diajar membuat mainan dari kulit jeruk bali yang dipotong sedemikian rupa lalu dirangkai dan disatukan dengan lidi. Juga bagaimana membuat rambut keriting menggunakan batang daun singkong. Ini jadi nostalgia banget ya..

Yang paling mengasyikkan adalah diajak ke pasar. Karena pasar dikampung itu hanya digelar dihari tertentu saja, jadi kepasar adalah hal mewah, apalagi untuk anak SD seperti saya saat itu. Bisa minta dibelikan mainan juga kudapan khusus. Yang paling saya ingat adalah Kue Broncong. Terigu dicampur gula, telur dan kelapa muda lalu dibakar dipemanggangan khusus. Aduh nikmatnya..

Credit
Satu-satunya yang tidak asyik versi saya adalah, MCK belum yang memadai. Awal-awal saya harus diajak ke kebun untuk BAB. Syukurnya, rumah kami segera mempunyai WC sendiri. Lengkap dengan sumur yang mesti di katrol dulu tiap mau menggunakan airnya. Belum bisa punya pompa air sendiri sih.. 😆

Kembali ke Kendari
Begitulah masa kecil yang saya habiskan di desa Penanggo, Ladongi, Sulawesi Tenggara. Sederhana dan sangat membumi 😄Setelah itu, saya pindah lagi ke Kendari, kembali ikut bersama ayah dan ibu. Suasananya berbeda sekali dari tinggal di pedesaan ke kompleks perumahan. Yang dari mainnya ditanah lapang, parit berumput dan kebun jadi ke alang-alang tinggi yang tumbuh depan rumah dan got yang sudah tersemen tapi tidak pernah dipakai. Maklum, posisi rumah kami dikompleks saat itu benar-benar diujung. Berbatasan sama tanah kosong penuh ilalang.

Tidak butuh waktu lama untuk saya punya banyak teman disana. Karena sekolah kami tidak terlalu jauh, biasanya kami bermain disekolah saat sore hari. Pernah juga berkelilling kompleks untuk mencari pohon gersen yang banyak buahnya. Pulang-pulang kami sudah semakin eksotis dengan bau matahari yang semerbak nan anyep. Tentang got bersemen itu, kami jadikan markas pertemuan. Agar tidak panas, kami menumpuk batang dan daun-daun kering diatasnya. Saya and the gank makin akrab sampai akhirnya saya harus pindah tempat tinggal lagi.

Saya dan orang tua beserta adik-adik saya pindah ke rumah yang Alhamdulillah kami tempati sampai sekarang. Tidak hanya kami, tapi tante dan para sepupu juga. Mereka memilih tinggal di Kendari juga untuk bersekolah. Kakek dan Emmi pun sering berkunjung kesana, sambil sesekali pulang mengurus kebun cokelat mereka. Saya kembali jadi murid baru disekolah yang baru. Hanya setahun, saya pindah lagi, kembali ke Bogor.

Ke Bogor Lagi
Ayah kembali melanjutkan sekolah doktoralnya di IPB, Bogor. Ibu saya dan adik-adik lagi-lagi semua diboyong kesana. Saya dan adik kedua saya bersekolah di SD yang sama. Saya kelas 6 sedang dia kelas 1SD. Disini, saya merasa sangat  kesulitan. Teman-teman saya disekolah  ataupun disekitar rumah sering memakai bahasa Sunda saat ngobrol. Saya yang meskipun pernah tinggal di Bogor sebelumnya ya tetap saja kesulitan. Ya iya dong, dulu di Bogor kan masih TK 😛 Tapi lampat laun, saya jadi mengerti sedkit demi sedikit. Dan justru dengan itu sekarang saya jadi mengerti bahasa Sunda yang ternyata berguna saat merantau di Bandung  seperti sekarang ini. Kesulitan lain saat itu adalah  saya harus berlatih silat sebagai syarat kelulusan mata pelajaran muatan lokal. Duuuhh.. Meuni hese euy >.<

Disinilah saya lebih banyak mengenal Bogor. Akrab dengan cuacanya, berteman baik dengan kondisi kotanya. Cukup banyak tempat yang saya sempat jelajahi dan saya suka dengan makanan-makanannya.Lebih dari itu, saya jadi punya sahabat-sahabat yang sampai sekarang keep in touch.

Kembali Ke Kendari, lagi..
Beberapa tahun berikutnya, saya dan keluarga kembali lagi Ke Kendari. Sebuah kota kecil yang dianugrahi sebuah teluk yang (dulunya) indah. Tempat merantau orang tua saya lalu menjadi tempat menatap bagi kami semua. Jadi, mungkin lebih tepat kalau saya menganggap Kendari-lah kampung halaman saya. Karena, meski beberapa kali singgah dan pergi, akhirnya kembali lagi. Bahkan sekarang, kata "pulang" dalam kamus saya adalah Kendari.

Banyak memori tercipta disana, walau tidak selalu indah. Dan meski tidak lahir disana, tapi disana ada orang tua, adik, keluarga-keluarga lain yang akhirnya banyak juga di Kendari, sahabat, teman dan tentunya, jodoh saya.


Jadi rindu pulang kampung..
Jadi rindu ke Kendari💛


You Might Also Like

8 comments

  1. Jadi bisa silat nyaa dan basa sundaan yaa hihii... Aku baru tau muloknya silat :D
    Back to Kendari juga ujungnya :) moga aku bisa ke sana .... Blum pernah keluar pulau jawa atau sumatra uy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saeutik saeutik sih i can mba.. Hihihi.. Iya dulu muloknya silat loh..bagus ya.. :D

      Iya Mbak, Aamiin.. Biar kenal sm kota anti macet..hihi.. Semoga kita bisa keliling indonesia ya Mba :)

      Hapus
  2. pindah dari satu pulau ke pulau lain yg berbeda, tentu jadi pengalaman yg menyenangkan ya, jadi tau perbedaan dan persamaan tiap pulau :) kalau saya, dari kecil sampai skrg, gak pernah pindah pulau, tetap menetap di pulau jawa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya Mbak.. Banyak pengalaman n teman dan sahabat juga.. :)

      Hapus
  3. saya pun bingung dengan pengertian kampung halaman itu say, saya bingung kampung halamanku itu di Tolandona (tanah kelahiran) ataukah di Lombe (tempat saya menghabiskan masa kecil hingga remaja)

    BalasHapus
  4. Toh sy kira sy ji yg bingung ehehehe.. Tp dimanapun kak, asal qt senang dan selalu dirindukan, mgkin disitulah kampung halamanta yg sebenarnya.. Ddi' kak? Hehe

    BalasHapus
  5. eh iyaaa baru inget kalau dulu namanya ujung pandang sebelum jadi Makassar :D
    Jadi kiki lebih sering tinggal di Kendari aku rasa ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Nin, dulu sempat Ujung Pandang, dan kok sy lebih suka ya? :D

      Jadi benerlah ya klo aku ini Kendarians =))

      Hapus