Dibalik Kalimat Pedas Seorang Teman

30 Januari

Source

Saya selalu mengganggap bahwa mahluk yang bernama lelaki itu pasti minim kata. Mereka jarang melampiaskan emosinya dengan deretan kata yang panjang. Kalaupun ada yang demikian, pasti jumlah mereka sedikit. Ini bisa (saya) dilihat dari postingan-postingan media sosial yang sedang ramai-ramainya saat ini. Kalaupun sedang mengunggah gambar, jarang captionnya panjang lebar berisi curhatan atau pelampiasan perasaan. Paling "life is never flat broo" atau tidak ya mungkin "#office #bikerlife". Begitulah yang saya lihat. Jarang-jarang yang memenuhi captionnya dengan luapan emosi, bahagia sedih marah-nya mereka jarang terbaca dari postingan atau gambar yang mereka unggah. Beda dengan para-para ladies. Termasuk saya sih.. 😅 kita diciptakan dengan segala keinginan untuk mengekspresikan diri, salah satunya ya dengan menuliskannya di caption box postingan kita. 

Daaaaan..ini cuma bagian dari menggenaralisasikan perempuan dan laki-laki versi saya saja ya..

Tapi beberapa minggu terakhir, saya rasa pendapat saya menjadi tidak tepat. Suatu waktu, saya mendapati postingan teman sekolah saya dulu, seorang laki-laki, yang juga seorang ayah, penuh dengan luapan emosi kekesalan. Jelas siapa yang disinggungnya dalam barisan kalimat-kalimat yang di tulisnya. Meskipun saya cukup heran, saya cuma membacanya sekilas saja. Sebatas lewat lalu lanjut scroll down lagi. 

Hari berikutnya postingan sejenis dari teman saya ini, ada lagi. Saya mulai berpikir, "ini kok laki-laki ember masalah begini sih". Postingan berikutnya saya lihat lagi masih masalah yang sama. Bahkan yang terakhir saya lihat ini berhasil buat saya akhirnya kepo. Saya coba buka profilnya, baca-baca postingannya dan akhirnya berkesimpulan bahwa dia memang ada masalah dengan seseorang. Saya tidak tahu persis masalahnya seperti apa. Saya menerka sesuatu tapi ya sudahlah. Saya cuma dalam posisi tidak habis pikir, seorang lelaki, bahkan sudah menjadi seorang ayah, meluapkan emosi kekecewaan dan kemarahannya sedemikian jelas nan tidak bijaknya di caption sebuah gambar yang dipostnya. 

Saya sedang tidak dalam posisi mencari tahu apa akar permasalahan mereka. Mau siapa yang benar siapa yang salah, saya sama sekali tidak ada urusan. Tidak ada kapastitas untuk menilai. Saya hanya, ya itu tadi, terheran-heran. Sebuah masalah, yang kiranya menjadi konsumsi keluarga, yang mungkin sebaiknya dicarikan solusi, justru diumbar dan menjadi bacaan setiap orang yang berteman dengannya di media sosial. 

But some how, saya membayangkan diri saya sebagai orang yang disebut-sebut dalam postingan teman saya ini. Saya membayangkan jika saya yang sedang membaca kalimat-kalimat pedas itu dan yakin benar bahwa saya orang dimaskud. Pasti memerah mata saya. Terlepas saya salah atau benar, tapi dengan seperti itu,tapi itu namanya sedang dipermalukan. Penilaian orang lain yang ikut membaca kalimat itu, terhadap saya juga pasti sebagian besar akan terpengaruh. Jaman sekarang, hal negatif lebih menarik dan cepat tersebar. Belum lagi jika ada keluarga yang ikut membaca. Barang pasti akan ikut malu kemudian geram dengan caption yang demikian kasarnya. Membayangkan hal-hal demikian, saya jadi ngeri.

Gara-gara itu saya flashback sendiri, mengingat-ingat apa saya pernah ya buat status yang serupa. Sayangnya, jawabannya, sepertinya pernah. Aduh saya ini.😔 Yah meskipun tidak sepedas kalimat teman saya tadi, tapi roman-roman menyinggung orang lain itu memang pernah saya tulis disebuah status. Semoga tidak lagi.

Ternyata melalui postingan teman saya yang ngeri-ngeri sedap itu, masih ada hikmahnya ya. Saya jadi bisa mengingatkan diri saya sendiri untuk tidak berlaku seperti demikian. Karena, benar atau salah posisi kita, kita tetap terlihat lemah saat "memaki" meski secara tersirat. Kalaupun kita benar, tidak adalah alasan yang tepat untuk mengumbar kesalahan orang lain apalagi dibarengi dengan hatespeech. Apalagi jika kita memang salah, sudahlah salah berbonus dosa atas menabur kebencian lagi. 

Semoga diri ini, hati ini, jari-jari ini, senantiasa semakin mawas diri. 
Semakin bijak dalam bertindak, semakin berbudi dalam berbagi.


INGA-INGA..TING!


 

You Might Also Like

2 comments

  1. kalau ada orang yang nyebelin sih aku cuma gerundel
    tapi kalau udah ganggu aku lebih suka negur langsung :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. maunya gitu sist, tapi ini takut terlalu jauh "masuk"nya.. hihihi

      Hapus