Opinion

Sehat Karena Curhat

31 Januari

 

Yang menjadi bagian paling tidak menyenangkan dihari-hari perantauan adalah ketika sakit. Karena rasa sakitnya bisa menjadi double bahkan triple kalau dibarengi rindu. Rindu disayang-sayang ibu, rindu dimanja-manja zaujiy. Begitulah kira-kira yang saya rasakan.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat sakit. Sekujur badan terasa lemas. Lalu malamnya saya demam tinggi. Saya cuma bisa men-treat diri sendiri dengan banyak minum air putih. Karena saya terlalu malas untuk minum obat. Esok harinya demam saya turun, tapi badan saya masih lemas. Makan tidak selera, mau ngapa-ngapain malasnya bukan main. Malam berikutnya saya demam lagi. Saya sakit dan berteman sepi (duh). Saya akhirnya minta Mba L untuk kekosan, menemani saya yang punya niat tetap mengerjakan tesis dan supaya saya ada temannya.

AboutLife

Dibalik Kalimat Pedas Seorang Teman

30 Januari

Source

Saya selalu mengganggap bahwa mahluk yang bernama lelaki itu pasti minim kata. Mereka jarang melampiaskan emosinya dengan deretan kata yang panjang. Kalaupun ada yang demikian, pasti jumlah mereka sedikit. Ini bisa (saya) dilihat dari postingan-postingan media sosial yang sedang ramai-ramainya saat ini. Kalaupun sedang mengunggah gambar, jarang captionnya panjang lebar berisi curhatan atau pelampiasan perasaan. Paling "life is never flat broo" atau tidak ya mungkin "#office #bikerlife". Begitulah yang saya lihat. Jarang-jarang yang memenuhi captionnya dengan luapan emosi, bahagia sedih marah-nya mereka jarang terbaca dari postingan atau gambar yang mereka unggah. Beda dengan para-para ladies. Termasuk saya sih.. 😅 kita diciptakan dengan segala keinginan untuk mengekspresikan diri, salah satunya ya dengan menuliskannya di caption box postingan kita. 

Daaaaan..ini cuma bagian dari menggenaralisasikan perempuan dan laki-laki versi saya saja ya..

1Minggu1Cerita

Dimana Sebenarnya Kampung Halaman Saya?

26 Januari

Random from Google

Saya baru saja selesai membaca postingan Kak Ira tentang kampung halaman yang baru saja di updatenya. Katanya cerita itu merupakan setoran untuk memenuhi project 1M1C, alias 1 Minggu 1 Cerita. Saya jadi tertarik dengan project ini. Saya coba googling dan mendapati akun twitter project ini. Sayangnya, link untuk pendaftarannya sudah tidak bisa diakses. Sudah saya coba menanyakan hal ini via mentions belum ada juga jawabannya. Ya sudahlah, saya coba tetap untuk menulis. Anggap saja sebagai ajaang untuk belajar menulis lebih baik. Mari kita tuntaskan :)


Tentang Kampung Halaman
Berbicara tentang kampung halaman, yang menjadi bayangan saya adalah tempat kita lahir, menghabiskan masa kecil, tempat merajut banyak memori dan tempat yang pastinya dirindukan untuk pulang. Setidaknya begitulah bagi saya. Tapi saya jadi terheran sendiri. Kalau itu syarat mutlaknya, maka sebenarnya saya tidak punya kampung halaman dong, atau justru saya punya banyak kampung halaman. Bingung? Saya juga😅

FullofPicture

Yearly Must Have Item

21 Januari

Planner Book
Saya bukan tipe manusia yang saat berkegiatan bisa terorganized dengan baik. Bukan juga pengingat yang handal. Terlebih harus mengingat saya beli benda a ditanggal sekian dengan harga sekian. Duh susah. Untuk itu saya selalu merasa butuh memiliki planner book, yang sering kali saya beli tahunan.  Tapi kenapa harus dibuku?

Bisa saja sih, sangat bisa malah kalau menuliskan hal-hal yang kita anggap penting di kalender handphone, atau di notes handphone. Tapi percayalah kawans, sensasinya berbeda. Menulis dengan tangan memiliki effort yang berbeda. Menulisnya harus niat, biar lebih kena dihati. Yah, setidaknya, itu bagi saya 😊
Sekali lagi, ini masalah selera. Meskipun segala kemudahan ditawarkan gawai digital, sebutlah paper less, bisa dilakukan kapan saja tanpa tambahan alat selain gawai itu sendiri, ada fasilitas untuk dapat dibackup diemail atau sejenisnya, dan lain sebagainya,  menulis langsung tetap saja meninggalkan kesan yang berbeda. Bahkan terkadang, saat saya mencoba mengingat sesuatu yang pernah saya tulis, akan terbayang dibagian kertas sebelah mana saya menuliskannya, dengan tinta berwarna apa, dan itu cukup membantu saya mengembalikan memori-memori yang berserakan tersebut. (apasih berserakan😅) Iya tidak sih, kawans?

AboutLife

Pergi Lebih Dulu

20 Januari


Dalam beberapa kali pillow talk dan disela-sela waktu kosong berdua dengan zaujiy, pernah saya menanyakannya satu hal yang menurut sebagian besar orang, termasuk dirinya adalah tabu. Makanya, setiap kali saya menanyakan hal tersebut, zauijy hanya menimpali dengan diam, lalu mendaratkan lengannya untuk melingkari sisi tubuh saya yang mudah digapainya sambil berkata "Ndak usah bicarakan tentu itu deh,sayang".

Kalimat pendek yang tidak terjawab itu adalah tentang kematian. Saya katakan padanya, jika suatu saat nanti ajal menemui kami, saya ingin sayalah yang dipanggil duluan. "Sayang, sa ingin mati duluan dari pada kita". (Kita adalah kata ganti kamu versi lebih sopan dalam dialeg Sulawesi). Itu lah kalimat yang tidak pernah ingin dijawab apalagi dibahasnya lebih panjang. Meski begitu, sekali waktu, saya  melanjutkan "Saya tidak tau bagaimana kalau harus memulai semuanya tanpa kita'.." Saat kalimat itu selesai, zaujiy buru-buru mengganti topik pembicaraan sambil melabuhkan pelukan hangat.

AboutLife

Terbebas!

18 Januari

Source
Ada rasa senang dan bahagia yang saya rasakan saat ini. Sayangnya saya terlalu, mungkin kata yang pas adalah munafk untuk mengakuinya. Tapi disisi lain saya ingin ini tetap terekspresikan. Maka, rentetan kalimat dilayar ini adalah tempat saya yang pilih. Meskipun takkan jelas apa dan siapa sebenarnya para-para mereka dalam kisah ini.

******

Dulu, saya sempat akrab dengannya. Selain kita berada ditempat melakukan kegiatan yang sama, kami juga terpaut hubungan yang sedemikian kebetulannya bisa pas. Waktu berlalu. Kedekatan yang ada perlahan mengalir menjauh. Tak ada lagi sapaan meski cuma sekilas. Parahnya, tidak hanya sampai disitu. Kami malah harus berbagi cerita dibelakang dengan saling membenarkan posisi masing-masing. 

TodaysStory

Investasi Kecil-Kecilan

17 Januari

Source

Setelah tidak lagi berbisnis (kecil-kecilan), ditambah dengan habisnya masa sebagai penerima beasiswa, plus sedang tidak tergabung dalam proyek apa-apa, saya (yang belum bekerja ini) hanya mendapatkan uang dari zaujiy dan kadang-kadang dari orang tua. Dalam keadaan yang seperti ini, dengan sendirinya, otak saya memprogram bahwa semua pengeluaran harus (jauh) lebih bijak. Kalau dulu, satu dua gamis gampang berpindah dari toko ke lemari saya, beli jilbab sekaligus beberapa warna, sekarang pikir-pikirnya malah kadang sampai lupa mau beli. Prioritas semakin dipertajam. Pertimbangan jadi semakin banyak.

Sembari menunggu saat yang tepat untuk bisa kembali berbisnis lagi, saya akhirnya memutuskan untuk berinvestasi. Dimulai dengan yang mudah saja dulu. Yakni, berinvestasi emas. Saya bersyukur pernah nyasar diblog-nya entah siapa yang menuliskan secara lengkap bagaimana sistem tabungan emas yang diselenggarakan oleh Pegadaian, yang akhirnya masuk dalam to do list saya.

Saya kemudian mendiskusikannya kepada zaujiy, atau lebih tepatnya meminta izin, untuk membuka tabungan emas tersebut. Saya jelaskan bahwa ada dua pilihan yang bisa diambil dalam berinvetasi emas ini, yang pertama dengan membuka tabungan emas dan yang kedua adalah mencicil emas. Dengan berbagai macam timbang-timbang sesuai dengan kondisi kami, akhirnya pilihan kami adalah membuka tabungan emas di Pegadaian Syariah.

Review

Biaya Saat Menutup Kartu Halo

16 Januari


Ketika memutuskan untuk menutup karu Halo, saya mencari tahu kira-kira bagaimana mekanisme yang akan diberlakukan, terutama mengenai pembayarannya. Tapi saya yang memang tidak menyempatkan banyak waktu, tidak menemukan petunjuk selain saran untuk langsung saja datang ke Grapari terdekat.

Saat di Grapari, saya diminta untuk menunjukkan KTP dan menyebutkan alasan kenapa mau menutup kartu Halo saya. Saya katakan saja bahwa saya telah membuka kartu Halo lain dengan paket yang lebih murah dan sesuai dengan kebutuhan saya.

Setelah itu, customer service mencocokkan data saya, termasuk mengecek tagihan bulanan yang sudah saya lunasi beberapa hari yang lalu. CS kemudian memberi tahukan ke saya bahwa ada biaya penutupan yang akan diberlakukan, lengkap dengan hitung-hitungannya.

Jadi biaya yang harus dibayarkan (selain tagihan bulan sebelumnya) akan diperoleh dengan cara:

(Jumlah hari dari billing cycle / jumlah hari dalam sebulan) * harga paket * pajak + abodemen 

TodaysStory

Alasan Mengganti Kartu Halo

15 Januari


Sebelum lebih jauh bercerita kenapa akhirnya memutuskan mengganti kartu Halo, saya akan terlebih dahulu menceritakan alasan saya memakainya,ya..

Jauh sebelum saya membuka kartu Halo, beberapa teman sudah menyarankan kesaya untuk menggunakannya. Kecepatan dan kestabilan jaringan internetnya alasan mereka PeDe untuk mempromosikan. Selain itu, harga promo dan fasilitas yang didapatkan saat itu terbilang terjangkau. Tapi dengan alasan tidak mau menambah biaya bulanan, terlebih saat itu belum bekerja "benar", saya memutuskan untuk tetap menggunakan satu kartu saja.

Sampai akhirnya ada moment yang saya merasa saya butuh si kartu Halo itu. Yaitu, saat mempersiapkan pernikahan. Segala urusan harus senantiasa didiskusikan dan di crosscheck statusnya, apalagi saya masih di luar kota saat itu. Saya merasa butuh kartu yang bisa saya pakai setiap saat, tanpa harus beli paket nelpon terlebih dahulu dan yang tidak ada batas jam penggunaannya. Dan ini tidak saya dapatkan pada kartu AS, kartu yang saya gunakan.

Untuk alasan itu, saya memutuskan membuka kartu Halo. Saya mendatangi grapari, berbekal KTP berlaku dan keterangan domilisi karena membuka di kota yang berbeda dengan asal KTP saya. Tidak lama berhadapan dengan CS-nya, kartu Halo saya siap digunakan. Saya mengambil paket 80K perbulan, dengan paket internet yang saya lupa berapa, ditambah dengan 200menit telepon dan 200sms sesama Telkomsel. Cukuplah bagi saya saat itu.

Paket ini saya gunakan beberapa bulan lalu saya upgrade ke HaloFit 100K. 2GB internet, 200Menit telepon dan 200SMS sesama Telkomsel. Meskipun sebenarnya, hal ini tidak sengaja saya lakukan ketika membuka-buka aplikasi MyTelkomsel. Saya terus menggunakan paket ini  sampai akhirnya saya merasa kesulitan sendiri.

Curhat

Photo Session

14 Januari

Dari Bunda : 

"Nak, Abii-mu dan Bunda menghabiskan waktu yang tidak banyak saat Bunda pulang kemarin.
Kami tidak sempat berlibur berdua,
atau menghabiskan waktu dengan stay vacation seperti permintaan Bunda ke Abiimu.
Sebagai gantinya, Abiimu dan Bunda melakukan photo session Nak.
Anggap saja sebagai pelengkap di setahun kami bersama.
Kami juga berdoa, ini menjadi foto first prego- nya Bunda.. Hehe..
Semoga ya Nak.. Aamiin😇

Lihatlah Kami Nak..
Berdua bahagia, tapi bersamamu kami pasti jauh lebih menyenangkan..
Segera hadir diantara kami ya,Nak.
Juga diantara orang-orang yang menyayangi Kalian.."
 

KikiKuliner

Iga Penyet Lembut di Kendari

14 Januari


Ajakan untuk mencoba Iga Penyet ini sekian kali gagal karena tidak tepatnya waktu dan beberapa alasan lain, salah satunya justru karena rumah makan tempat menjual sajian ini malah tutup. Sampai akhirnya, satu siang yang cukup terik, zaujiy mengemudikan mobil menuju kesana. Mobil telah berhenti sempurna, tapi saya belum terlalu yakin bahwa kami telah tiba ditempat yang zaujiy maksud. Tempatnya terbilang sederhana, tapi mari kita coba saja.
 


Zaujiy memesan dua paket iga penyet seharga Rp.40.000. Saya rasa itu cukup mahal, untuk ukuran rumah makan pinggir jalan seperti ini. Untungnya, harga sudah termasuk dengan sepiring nasi dan segelas es teh manis.

Tidak perlu waktu lama, pesanan kami datang. Zaujiy sempat mengomentari, bahwa tampilannya sedikit berubah. Biasanya, sambelnya diletakkan persis diatas potongan-potongan iganya, namun kali ini ditepikan sedikit bergabung dengan lalapan timun dan kol. Meskipun begitu, masih terlihat biasa saja, bagi saya :D



Time to icip-icip. Ternyata semua yang terlihat biasa saja itu termaafkan dengan kerjasama antara lembut daging dan pasnya kombinasi rempah si iga penyet. Serius. Saya yang sedang memakai behel sekalipun, tidak kesusahan untuk menggigit sampai putus si daging yang menempel pada tulangnya tersebut. Tulangnya sampai bersih benar saya buat😂

FilmKiki

REVIEW Hangout dan Cek Toko Sebelah

04 Januari

Kedua film lokal ini sama-sama release di penghujung tahun 2016, tapi keduanya saya tonton di 2017. Selain karena update-an film di Kota Kendari ini memang lebih lambat beberapa hari jika di bandingkan dengan kota besar, juga karena saya memilih menonton di hari kerja. Ini saya lakukan sebagai upaya menghemat Rp.10.000 pertiket. Kan lumayan ya :D

Film pertama yang saya nonton tentu saja Hangout. Rasa penasaran saya sama film ini terbilang tinggi, hampir sama penasarannya saya dengan Koala Kumal-nya Raditya Dika yang lalu. Selain karena mengikuti prose syutingnya via RVlog, saya juga penasaran karena genre nya yang berbeda dari beberapa film Raditya Dika yang lalu.

Berbekal high expectation saat memasuki studio 1 Hollywood Sineplex Kendari, saya akhirnya harus keluar dengan rasa kecewa. Hangout tidak begitu menarik menurut saya. Genre yang diusung memang berbeda, tapi peramuannya dalam film ini terasa kurang pas. Sebagain komedinya memang pecah tapi terbaca, sebagian lain tidak sampai dalam selera humor saya. Banyak adegan yang menurut kacamata saya yang awam, terlihat kaku. Terlebih dengan alur cerita yang sangat dipaksakan. Motif kenapa si pembunuh akhirnya melakukan pembunuhan-pembunuhan itu rasanya terlalu mengada-ada. Apa susahnya meminta izin keluar dari ruangan lalu bersegera menuju ke rumah sakit. Saya akhirnya melabel Hangout di point 6/10. Hupf

Beberapa hari kemudian, saya kembali ke bioskop untuk menonton Cek Toko Sebelah. Sejujurnya, saya tidak begitu tertarik dengan film ini. Saat menonton trailernya di Youtube, saya malah memberi jempol kebawah. Saya merasa semua bagian lucu dari film CTS sudah diumbar disana. Ternyata saya salah.