Usaha Memiliki Momongan

04 Desember

Dari sebagian pasangan yang tidak langsung mendapat amanah buah cinta diawal pernikahan, saya dan suami adalah salah satunya. Juga dari segelintir pasangan yang masih harus berjuang dengan kesendirian malam karena masih harus menjalani long distance marriage, kami juga adalah salah satunya. Berkaitan kah keduanya? Hampir iya.

Menikah disaat kuliah S2 belum selesai adalah tantangan tersendiri. Tapi langkah itu tetap menjadi pilihan terbaik bagi kami. Panggilan jiwa yang sudah cukup muak lelah dengan cinta, yang katakanlah, belum ada ridho Tuhan didalamnya, menjadi alasan yang kuat. Bersamaan dengan itu, ingin melengkapi sebagian agama agar bisa beribadah bersama juga menjadi pendorong kami.


Kami menikah dengan saling berbesar hati. Suami berbesar hati menerima bahwa, dirinya masih akan harus mengurus diri sendiri sampai saya lulus kuliah. Sayapun berbesar hati menerima bahwa, suami belum memiliki pekerjaan tetap saat itu. Kami berdua sangat percaya akan janji Allah, bahwa akan terbuka tiap-tiap pintu rejeki bagi orang yang sudah menikah. Jangankan setelah menikah, saat merencanakan pernikahan saja, Allah sudah memberi rejeki dari arah mana saja. Kami terus yakin, maju terus pantang mundur. πŸ˜€
Sekarang menjelang setahun usia pernikahan kami. Alhamdulillah, suami sudah memiliki pekerjaan tetap. Dirinya juga terlibat dibeberapa pekerjaan lain, pundi rejeki kami sedikit demi sedikit terisi. Banyak sedikitnya kami syukuri dengan sangat.

Tapi, saya sendiri belum kunjung selesai kuliah. Masih beberapa tahap yang harus dilewati untuk benar-benar bisa meninggalkan kampus. Sedih? Barang pasti. Tapi, usaha dan keyakinan untuk bisa selesai terus ada. Syukurnya, suami dan orang tua tetap mendukung penuh. Dan menurut saya, ini yang paling penting sih, tanpa dukungan mereka, apalah saya.

.:Tentang Usaha Memiliki Momongan : Ke Dokter Kandungan

Bulan-bulan awal kami menikah, kami masih sangat santai. Kami belum mengusahakan apa-apa selain proses yang semestinya terjadi. Mungkin karena benar-benar masih awal pernikahan, romantisme bulan madu belum kunjung reda sepertinya bagi kami. Jika ada yang bertanya pun, kami masih sangat santai menjawab "pacaran halal dulu nih".

Kemudian, kami mulai semakin sering menerima pertanyaan tentang kehamilan. Dari menjawab dengan sangat santai, kini mulai ada sedikiiiit beban. Beberapa kerabat menyarankan untuk melakukan pemeriksaan awal di dokter. Akhirnya kami setuju. Kami mendatangi dokter spesialis kandungan yang cukup terkenal di Kendari. Sebenarnya bukan karena alasan itu kami mendatanginya, tapi saya cuma tahu dokter kandungan itu. Benar-benar ketahuan, kami atau tepatnya saya masih sangat cetek dalam hal ini.

Pemeriksaan awal saya cuma di USG dan diberi saran-saran mengenai program kehamilan. Saya dan suami mendengar dengan seksama dan tegang. Wajar dong, kan ini for the first time. Syukurnya, saya dinyatakan sehat-sehat saja. Tidak ada semacam kista atau miom atau apalah itu dirahim saya. Alhamdulillah. Saya juga diberi satu (atau dua kah?) papan vitamin yang harus dikonsumsi tiap hari. Selain itu juga, kami juga diberikan jadwal untuk bertemu. Tapi jujur, kadang kami langgar kemudianπŸ˜… Susah sist patuh aturan tanggalnya, hehe. Kami juga disarankan untuk datang lagi bulan berikutnya, jika saya masih mengalami haid. Selain akan ada pemeriksaan lanjutan untuk saya, juga akan dilakukan pemeriksaan awal bagi suami. Kami mengiyakan dan pulang dengan kartu kontrol dan USG rahim kosong yang langsung saya simpan dengan rapi.

Sambil mengkonsumsi vitamin dari dokter, saya juga beberapa kali melakukan pijat. Awalnya adalah karena kecapaian, tapi akhirnya menjadi rutin beberapa bulan, selama saya masih di Kendari saat itu. Kebetulan, Mbak Pijat ini bisa "pegang perut" katanya. Dia terbiasa membetulkan posisi rahim bagi yang belum hamil, dan memperbaiki letak janin bagi yang sudah hamil, katanya. Selain itu saya juga rutin minum susu promil. Ini saya lakukan sampai bulan ke 8 (jika tidak salah ingat), ditambah dengan madu penguat kandungan.

Kami juga akhirnya tidak datang lagi ke dokter ini. Kami sama-sama yakin, suami saya baik-baik saja.

.:Pindah Dokter Kandungan

Dua bulan berikutnya, berbekal hasil diskusi dengan beberapa teman yang sukses hamil dan memiliki anak, saya pun kembali mendatangi dokter obygn. Kali ini dokter yang berbeda dengan yang lalu. Pemeriksaan yang dilakukan hampir sama dan diagnosanyapun juga sama. Saya sehat-sehat saja. Alhamdulillah. Tapi sejujurnya saya kurang sreg dengan dokter yang ini. Dokternya terlalu santai menurut saya, mungkin maksudnya biar kami woles saja karena belum punya anak, ya.. tapi saya tidak suka dengan metodenya. Memang kami disuruh santai saja dulu dan tetap menikmati masa-masa menunggu untuk memiliki anak, tapi tidak ada saran-saran apa yang sebaiknya kami konsumsi atau metode yang kami baiknya terapkan. Dokter ini fokusnya cuma adalah : perbanyak berdoa saja Buu... Terang saja kami banyak perdoa Dok, tapi kami ini juga kan cari upaya-upayanya πŸ˜“. Sedikit dongkol saya saat meninggalkan ruang prakteknya malam itu. Tapi kembali senyum saat tahu harga konsulnya ternyata jauh lebih murah dibanding dokter pertama yang kami kunjungi. Dasar buibu irit.😝

Tiba saatnya saya harus kembali lagi ke Bandung. Dan usaha memiliki momongan masih gagal. Tak apa, life must go on. Toh semakin cepat kembali ke Bandung, semakin cepat pula kembali ke pelukan suami Kendari lagi.

.:Terlambat Haid

Sampai di Bandung, saya tersadar kalau saya terlambat haid. Saya cukup excited saat itu. Saya dan suami jadi harap-harap cemas. Saya termasuk orang yang mempunyai jadwal haid teratur. Saat belum jadi istri orang masih gadis, malah hampir tiap bulan siklusnya adalah 28 hari. Setelah menikah, menjadi 29-30 hari. Saya buka kalender haid bulanan, dan saya makin yakin kalau saya benar-benar terlambat haid. Tapi niat untuk menguji dengan tespack belum bulat, takut jika harus melihat tanda negatif lagi (seperti beberapa bulan yang lalu ketika terlambat satu hari, hahaha).

Hari ketujuh terlambat haid, saya mengabarkan alias meminta doa sama Ibu. Ibu cuma bilang jangan kecapean, banyak-banyak shalawatkan perut dan makan yang baik. Hampir sama dengan Ibu, suami juga berpesan seperti itu.

Saya mulai banyak browsing tanda-tanda kehamilan. Sebagian memang saya alami, tapi beberapa lainnya ada juga yang tidak. Saya juga mulai mencari informasi mengenai dokter kandungan di Bandung. Saya sudah bookmark beberapa yang sesuai dengan pertimbangan yang saya mau.

Hari kesembilan terlambat haid, saya makin yakin kalau saya hamil. Saya sudah meniatkan akan melakukan uji TP hari jumat, dan akan kedokter jumat sorenya.  Sampai akhirnya hari kedua belas, atau ketiga belas, yang jelas itu hari kamis, saya mendapati bercak di pakaian dalam saya. Perasaan saya jadi tidak karuan. Saya kabarkan ke suami, dia bilang jangan panik. Mungkin saja itu salah satu gejala hamil, katanya. Benar juga sih, saya juga pernah membaca beberapa referensi yang mengatakan bahwa, adanya bercak bisa menjadi salah satu tanda kehamilan, karena embrio akan melekat di dinding rahim. Dinding rahim yang ditempeli itu akan luruh, sehingga akan ada bercak yang keluar, begitu penjelasannya. Dan akhirnya saya coba untuk kembali tetap tenang.

Menjelang sore, tampak bercak yang semakin banyak. Dan akhirnya darah segar keluar. Artinya, saya belum hamil. Hancur hati saya saat itu rasanya. Sedikit tidak percaya tapi saya yang saya lihat betul-betul darah segar, sangat mirip dengan darah haid.

Haid kali itu, tidak seperti haid seperti biasanya, ini sakit, sungguh sakit. Untuk meluruskan kaki saja rasanya susah. Saya hanya bisa banyak berbaring di tempat tidur dan tidak bisa kekampus. Saya cuma bisa pasrah saat itu. Hampir 2 minggu terlambat haid, ternyata belum tentu hamil ya. Niat kedokter sudah saya batalkan. Saya malas untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Toh sakitnya haid, bikin saya tidak bisa kemana-mana selain keluar untuk beli makan, itupun saya paksakan.

.:Minum Madu Sepasang

Menjelang lebaran Idul Adha, saya pulang kembali ke Kendari. Beberapa minggu sebelum itu saya dan suami kembali memperbaiki pola makan. Suami memperbanyak konsumsi daging dan buah, sedang saya memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Kami juga sama-sama mengkonsumsi madu sepasang yang kami beli di salah satu toko herbal di Kendari. Ini rekomendasi dari banyak artikel di internet.

Sesampai di Kendari, kami tidak menerapkan program selang beberapa hari untuk kembali bertemu. Ada artikel yang menyarankan, selama itu dalam waktu subur, silahkan bertemu. Jangan kaku dengan patokan selang berapa hari seperti beberapa saran dari artikel/dokter lain, termasuk dokter saya yang pertama. Selama dilakukan dalam keadaan senang, bahagia, dan sama-sama fit, kehamilan bisa terjadi. Seperti itu intinya. Secara pribadi, saya lebih menyukai sistem ini, karena betul-betul tidak ada beban, takut salah tanggal saat bertemu. Do it well and be happy. Tapi ternyata masih gagal, ketika saya kembali di Bandung, eh haid lagi, haid lagi. πŸ˜…

Sampai sekarang, saya belum bertemu lagi dengan suami. Hasilnya haid saya kembali tepat waktu. Entah sampai kapan. Tapi dalam waktu dekat, sepertinya saya akan pulang lagi ke Kendari. Semoga kali ini kami segera berhasil.

Agenda saya berikutnya adalah : kembali konsumsi susu promil, rutin minum madu, meningkatkan konsumsi buah sayur, dan akan akan kembali mengunjungi dokter. Ada hal yang menurut saya harus dikonsultasikan.

.:Usaha Lain : Mandi Hujan

Awalnya saran dari suami saya ini, cukup saya ragukan. Saya sama sekali belum pernah mendengar nya dari orang lain atau mengetahuinya dari bacaan apapun. Karena cukup penasaran ditambah dengan rasa senang (karena memang suka mandi hujan) saya pun mulai googling-in hal ini. Ternyata memang ada beberapa saran untuk melakukan ini, bagi pasangan/wanita yang sedang mengusahakan kehamilan.

Alasan yang cukup langsung "masuk akal" bagi saya, adalah, bahwa kita, manusia adalah mahluk organik, yang mana kita tercipta dari tanah. Dan tanah itu akan subur dengan hujan. Selain itu, saat hujan adalah salah satu waktu terbaik untuk berdoa. Dan hal ini juga ternyata tersirat dalam Alquran. Please spare your time untuk mengetahui lebih jelas mengenai hal ini ya. πŸ™‚

Saya pun mencoba melakukan ini beberapa kali. Pernah sendiri saja, pernah juga bersama suami. Selain itu,saya pun menampung air hujan secara langsung (bukan dari pancuran atap rumah), lalu diendapkan semalaman, dan kami minum bersama. Meskipun kenyataannya, saya belum hamil. Tapi setiap usaha pasti akan ada hasilnya. Sekarang, atau tunggu dulu. Saya dan suami terus yakin akan hal iniπŸ™‚ 

.:Tentang Perasaan, yang terus disodorkan pertanyaan yang sama.

Semakin lama usia pernikahan, semakin banyak juga pertanyaan yang serupa yang datang. Awal-awalnya saya woles sih, tapi makin kesini saya jadi cukup terbebani. Toh ini masalah rejeki, sama dengan menikah atau meninggal dunia, ini juga saya tidak tahu kapan. Terkadang ada rasa "ingin juga" muncul ketika mengetahui teman-teman sudah ada yang hamil bahkan melahirkan. Tapi InsyaAllah saya masih bisa terus berpikir positif. Tapi ya itu tadi, asal jangan sering-sering ditanya. APALAGI DIBANDING-BANDINGKAN! eh maaf, capslock.

Sejujurnya, ini lah hal yang betul-betul paling mengganggu pikiran dan meruntuhkan benteng yang sudah kokoh dibangun untuk tetap shanthaaai~ kaya diphanthaaai~, untuk tetap berusaha dengan hati riang gembira, dan untuk tetap ikhlas menjalani hari-hari.  
Im serious! Im not kidding right now.

REMEMBER!

Saya percaya, setiap orang punya jatahnya masing-masing. Jadi please atu lah, jangan jadi komentator terus. Own your business aja lah.. hehe.. Care tidak selalu dengan cara bertanya kan? ツ

JADI, jangan terlalu sering bertanya "kapan" ya. Saya orangnya sensitif, hehe. InsyaAllah jika ada berita baik, kalian akan tahu juga kok. Hehe.. Saling jaga perasaan ya..

Ayah, Ibu, Mama, Bapak, Adik-adikku dan semuanya, mohon doanya ya..

------------------------------------------------------

Bandung, 5 Desember 2016

Tulisan ini akan saya update lagi nanti, semoga dalam keadaan yang lebih membahagiakan :)
InsyaAllah. Tidak ada yang tidak mungkin :)

You Might Also Like

2 comments

  1. Pernah coba jus 3 dica say? Plus sari kurma. Sebelum hamil saya coba konsumsi itu dan diperbanyak 'usaha' dan doa :D

    Semoga disegerakan yah, ditunggu update kabar baiknya *pelukkk eraaat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo sari surma, saya konsumsi karena include di madu2 itu kak.. tp klo jus itu belum pernah sy coba sih.. hehe.. kayaknya akan masuk list kak.. :D


      aamiin ya Allah.. aamiin..
      tx anyway kak.. *peluk erat baliiiik*

      Hapus