Teman Sehari Kinan

04 Desember


"Kamu duduk di samping Kinan ya". Kata Ibu Guru sambil mununjuk ke arah bangku persis disebelah Kinan.

Berkenalan lah dua anak tingkat sekolah dasar itu. Saling bertukar cerita menjadi pelengkap awal sapa Kinan dan -siapa pula nama anak ini- di dalam kelas. Beberapa teman kelas memperhatikan Kinan, tapi Kinan cuek saja. Kinan tak berusaha mengenalkan anak baru yang sekarang duduk disampingnya itu ke teman-temannya yang lain.


Bel tanda istirahat berbunyi. Kinan dan anak baru itu masih saja asyik berbagi cerita. Sepertinya ada kisah menarik diantara mereka.

Bel tanda istirahat berbunyi. Mereka masih saja tenggelam dengan deretan kalimat yang saling mereka lontarkan.
"Rumah mu dimana?" Kinan bertanya.
"Kalau mau tahu, kamu boleh ikut ke rumahku pulang sekolah. Bagaimana?"
"Baiklah. Tapi tidak jauh kan? Saya akan di marahi Mama kalau bermain terlalu jauh" Kinan melanjutkan.
"Tidak kok. Lihat saja sebentar".
"Oke kalau begitu.." Kinan setuju.



Jam pulang sekolah. Kinan yang sudah setuju untuk melihat rumah teman barunya akhirnya benar-benar ikut.
"Belok disini, Kinan".
Sambil bercerita mereka terus berjalan. Hingga akhirnya Kinan merasa agak lelah.
"Masih jauh kah?" Kata Kinan dengan sedikit payah. Berjalan cukup jauh bukan sesuatu yang mudah bagi anak kecil itu.
"Tidak kok, kita cuma akan dua kali belok lagi".

Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Sepertinya benar-benar menarik kisah-kisah yang mereka bagikan. tanpa sadar mereka sama-sama berhenti di aliran sungai kecil semata kaki. Kinan dan teman barunya menyempatkan mencuci tangan dan membasuh muka mereka agar segar kembali.

"Sedikit lagi sampai. Ayo lanjut"
"Hmm, saya sudah tidak tahu ini dimana. Maukah kau antar saja aku pulang sekarang?" Kinan memberi pinta.
"Ini sudah sangat dekat kok. Kita sampai dulu dirumahku, setelah itu ku antar kamu pulang".
"Baiklah. Kalau kamu juga capek, antar saja aku sampai perempatan dekat sekolah, kalau disitu saya sudah hapal jalan pulang" Kinan menjawab teman barunya.
"Oke setuju. Tapi aku akan antar kamu pulang sampai rumahmu saja ah..".

Mereka masih terus berjalan diantara pepohonan yang rindang yang rapat. Mirip hutan pikir Kinan. Satu atap rumah akhirnya tampak. Kinan bersyukur dalam hati.

"Rumahmu yang itu kan?" Kinan memastikan.
"Iya. Ayo. Hati-hati ya. Jangan sampai terpeleset".

Baru saja teman barunya menyelesaikan kalimatnya, Kinan langsung mengerti apa maksudnya.

"Kita harus melewati ini?" Kinan kembali memastikan. Terang saja Kinan ragu. Ini pertama kalinya Kinan harus melewati sebatang pohon kelapa. Dibawahnya pun ada air,kotor lagi. Terbayang oleh Kinan jika jatuh terpeleset dan bajunya basah semua. "Bisa dimarahi Mama nih" Kinan membatin.

"Tuh kan. Kalau hati-hati tidak akan jatuh".
"Iya. Hmm, boleh kau antar aku pulang sekarang?" Kinan tampak memelas. Kinan mulai takut karena sadar ini sudah terlalu lama dari jam pulang sekolah. Bayangan akan dimarahi mengganggu kunjungan pertamannya kerumah teman barunya.
"Baiklah. Tapi minum dulu ya? Maaaaah, ini temanku sudah sampai!". 

Mama dan adik teman baru kinan keluar dari gubuk mereka. Jelas ini gubuk, tak ada lantai semen, cuma berdindingkan bambu dan tak ada tetangga sama sekali. Ditambah lagi harus melewati sebuah jembatan untuk sampai.

"Minum dulu nak"
"Iya Kinan. Minum dulu ya?"
"Tidak ah. Pokoknya antar saya pulang sekarang" Suara Kinan makin melemah. Antara takut dan capek. "Ayo sekarang,  antar pulang sayaaaa.."
"Minum dulu Kinan."
"Tidak. Antar pulang saja.." Kinan setengah memohon.
"Baiklah"

Mereka kembali menyusuri jalan pulang. Mereka kembali melewati sungai kecil yang dijumpainya saat pergi tadi.

"Kamu antar sampai perempatan dekat sekolah kan?" Kinan membuka percakapan setelah mulai lega.
"Tidak ah. Saya antar kamu sampai rumah saja"
"Tapi nanti kamu makin jauh jalannya.." Kinan merasa kasihan ke teman barunya.
"Kamu kan sudah tahu rumahku, giliranku tahu rumahmu dong.."
"Oh.. begitu. Okelah. Nanti akan ku minta Mama mengantarmu pulang dengan sepeda."
"Tidak perlu, saya sering kok jalan kaki.."
"Ih kamu ini. Jauh begini, bolak balik lagi.." Kinan menimpali dengan heran.

Kinan dan teman barunya pun sampai di rumah Kinan. Pucatlah muka Kinan melihat Mama sudah menunggu di teras rumah panggung ala Bugis itu.

"Kemana dulu Nak?" Mama tampak khawatir
"Kerumah Dia Ma.. Teman baruku ini Ma. Baru masuk tadi dikelas. Jauh ternyata rumahnya.." Kinan menjawab sambil menunjuk teman barunya.
"Harusnya pulang dulu toh.  Kamu, dimana rumahnya Nak?" Mama bertanya ke teman baru Kinan.
"Pokoknya,jauh Tante..".
"Masuk dulu. baru minum. Setelah itu Tante antar pulang ya?" Mama Kinan menawarkan opsi.
"Tidak perlu Tante. Saya bisa pulang sendiri".
"Ah tidak apa-apa. Tante mau tahu juga rumahmu dimana Nak" Mama Kinan ternyata bukan menawarkan opsi.

Mama Kinan dan teman baru kinan kini berboncengan.
"Dadah Kinan"
"Dadaaah.." Kinan menjawab singkat. Kinan tersadar, kalau Mama sudah pergi, kini tiba saatnya Nenek memarahinya.

Akhirnya kinan tidak langsung naik ke rumah. Dia bersembunyi di bawah tangga. Sampai akhirnya Nenek memanggil. "Duuh, kena marah pasti ini" Kinan membatin.

Mama kembali di rumah. Dipaksanya Kinan naik kerumah lalu mandi dan berganti pakaian dengan sangat buru-buru. "Kenapa sih Mama buru-buru sekali?" Kinan heran.

Dihadapan Nenek Kinan mulai diintrogasi.
"Betul kamu sampai kerumah temanmu tadi Kinan?" Mama memulai.
"Betul Ma.. Saya ketemu dengan mama dan adiknya.." Kinan menjawab jujur.
"Berapa lama kamu jalan kaki?"
"Tidak tahu. Yang pasti jauh sekali saya rasa Ma.."
"Kenapa tidak minta pulang saja kalau jauh?"
"Karena dia bilang sudah hampir sampai. Tinggal dua kali belok.."
"Kamu ketemu sama mama anak tadi, Mamanya Kinan?" Nenek mulai bertanya curiga.
"Tidak Mak. Justru itu. Saya heran bagaimana Kinan bisa sampai dirumahnya temannya. Saya saja dengan sepeda tidak kuat antar temannya pulang sampai rumah. Belum lagi sudah sore. Saya tidak hapal pasti jalanan. Itupun sama sekali belum masuk hutan. Anak itu bilang rumahnya dalam hutan." Mama menjelaskan panjang.
"Saya bilang sama temannnya Kinan "Tante sudah tidak hapal jalan pulang Nak." Untungnya temannya Kinan tadi langsung bilang "Sampai disini saja Tante". Jadi saya kasih turun anak itu, saya putar balik sepeda, baru saya pulang. Saya bingung dimana tadi itu sebenarnya Mak" Mama masih melanjutkan.
"Besok kamu kesekolah Kinan saja, tanyakan ke gurunya tentang temannya ini anak" Nenek menanggapi dengan geleng-geleng kepala.
"Kinan lain kali jangan begitu ya. Baru kenal langsung kerumahnya orang. Tidak minta izin lagi.." Nenek menasehati Kinan.
"Iya Nek, Ma. Tidak lagi" Jawab Kinan sekenanya.

Keesokan harinya.

"Bu, maaf saya mau tanya sesuatu.." Ucap mama Kinan di depan kelas.
"Iya Bu. Ada apa?"
"Dimana alamatnya anak baru yang duduk sama Kinan. Anaknya siapa dia itu Bu?" Mama Kinan bertanya dengan penasaran.
"Anak baru yang mana Bu?"
"Yang kemarin masuk Bu. Kinan kerumahnya pulang sekolah kemarin"
"Tidak ada murid baru masuk kemarin Bu. Hmm oh iya Bu, Kinan memang kemarin kelihatan berbicara sendiri di kelas.."
"Yang benar bu?! Saya kemarin ketemu anak itu. Saya antar pulang malah. Karena tidak sampai kerumahnya, makanya saya kesini untuk tanya ke Ibu Guru." Mama terlihat panik.
"Betul Bu. Tidak ada murid baru dikelas ini."
".........................."

Sepulang sekolah.
"Ma.. teman baruku yang kemarin itu, tadi tidak masuk.. Murid baru tapi sudah malas-malas".


🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽

Based on true story. Kinan adalah penulis.
Picture : http://www.pbs.org/parents/education/going-to-school/social/make-new-friends/

You Might Also Like

0 comments