Personal Project : One Day One Hi..

12 Desember

Ngambil disini
Disela-sela waktu saya berpusing ria dengan anak kecil saya yang manja dan meggemaskan bernama Thesis binti Bundanya, membuka media sosial menjadi pilihan saya untuk sekedar meluruskan otak. Heh(?). Jika harus diurutkan, saya akan terlebih dahulu membuka IG, lalu ke BBM, lalu ke Path dan terakhir Facebook. Terkadang, jika waktu memungkinkan atau memang sengaja saya mungkin-mungkinkan, i do looping. Kembali ke IG lalu berakhir lagi di laman beranda Facebook.

Apa yang saya temui disana adalah berbagai macam ekspresi kehidupan juga sejuta moment dari teman-teman atau orang-orang yang saya pilih untuk saya follow, yang saya baik-baik saja untuk mengetahui aktivitas mereka. Tidak hanya itu, saya juga menemui beberapa koleksi terbaru dari toko online yang racunnya coba saya tawarkan dengan tidak membuat token lagi setelah kedua token saya ketinggalan dirumah Kendari beberapa bulan lalu. πŸ˜…

Di berbagai media sosial itu, saya memanfaatkan betul fitur Like atau sejenisnya. Meninggalkan sedikit jejak sebagai sinyal bahwa saya masih ada, entah mereka peduli atau tidakπŸ˜† Tapi, semakin kesini, saya makin merasa, sekedar Like saja tidak cukup. Ini memang cukup membuktikan saya masih ada, tapi kok rasanya, rasa pertemanan tidak lagi sekental susu kental manis dulu ya?

Memang dunia terus berlanjut, masing-masing bersemuka dengan fase menemukan hal baru, yang menarik atau bahkan yang menyesakkan. Entah itu status baru, pekerjaan baru, teman baru, atau apalah bentuk dunia baru itu. Sebagai konsekuensinya, ada manusia-manusia yang akhirnya hanya menjadi sebatas kenangan dan atau cukup menjadi kenalan sahaja.

Beberapa hari yang lalu, salah satu teman di masa SMA yang lama tak ada kabarnya, juga recent update-nya, menegur saya di salah satu platform media sosial. Cuma kalimat ringkas, bahkan tak sampai 5 kata. "Kiki dimana? Kangeeen" katanya. Dan apa yang saya rasakan tidak sesederhana kalimat yang dia sampaikan. Buntutnya, saya membalas kalimatnya dengan lebih padat kata, dengan hati yang gembira. Seketika, ada semacam mainan kamera khas oleh-oleh jemaah haji menjalan tugasnya diingatkanku. Satu persatu bergantian jelas terbayang waktu yang pernah ada kami didalamnya. Ini manis dan hangat. Seperti sajian yang baru akan saya kenali justru saat orang lain menjatuhcintainya. Yak, kopi dengan gula yang pas.

Terbuktilah sebuah sapaan kecil berdampak manis. Tidak ingin saya nikmati sendiri, rasanya saya ingin orang lain juga merasakan sensasi ini. Sebisa mungkin, saya akan menyapa minimal satu orang yang mengisi hari saya sebelum hari ini dengan aksara setiap hari. Semoga, manisnya sama dengan yang saya rasakan.. 😊 Jika ternyata tidak, cukuplah itu menjadi upaya menyambung ukhkuwah insaniyah πŸ˜‰

Btw, kalian tau kan mainan apa yang sedang saya maksud ini? sebuah kamera tiruan berwarna merah, lengkap dengan piringan gambar yang akan menjadi 3D ketika di masukkan ke kameranya. Terbayanglah ya.. hihi..

🐹🐹🐹🐹🐹🐹🐹🐹🐹🐹🐹


You Might Also Like

0 comments