Hidup Tanpa TV

07 Desember

Sejak hidup diperantauan, TV akhirnya menjadi barang eksklusif bagi saya. Siaran televisi seakan menjadi barang langka untuk ditemui.


Alasannya adalah : saya numpang hidup di kostan yang tidak mengizinkan adanya televisi. Ibu Kost menerapkan aturan itu sejak awal dia memulai bisnisnya ini. Tidak ada pengecualian. Alasannya adalah supaya kostan tetap tenang dan kami -anak kostnya- tetap konsentrasi untuk belajar. Mulia sekali, bukan?😉 Sempat sih keyakinan Ibu Kost ini goyah, ketika banyak diantara kami meminta untuk pengadaan TV (setelah sebelumnya kami juga meminta pengadaan lemari es). Saya lupa alasan kuatnya kenapa akhirnya teman-teman kostan meminta untuk ada TV di kostan, tapi akhirnya hanya menjadi wacana. Bukan karena tidak disetujui oleh Ibu Kost, tapi karena tidak ada kesepakatan antara kami, si penghuni kost. Jadi, anak lantai atas minta agar TV-nya ditaruh dilantai bawah saja, kebalikannya,  anak lantai bawah minta agar TVnya disimpan di lantai atas saja. Alasannya sama, supaya kalau ada yang berkumpul (karena nonton TV) tidak akan terganggu. Karena tidak ada kesepakatan, wacana adanya TV di kostan pun berakhir dengan tetap menjadi wacana saja.

Jadilah, selama di kostan (sampai sekarang) saya ketinggalan berbagai acara televisi. Saya mengakses berita yang saya butuhkan cuma melalui internet. Cukup ampuh sebenarnya, tapi untuk iklan-iklan lucu/unik, gosip artis, berita aktual atau pertandingan olahraga saya jadi betul-betul ketinggalan.

Walaupun semuanya juga ada di internet, tapi untuk mendapatkan beritanya,  perlu "niat" yang khusus sih. Menulis keywordnya, membaca, atau berhenti sejenak dari ms.word atau pdf itu cukup butuh waktu, terlebih karena semuanya hanya bisa dilakukan di satu layar yang sama. Berbeda jika ada TV itu sendiri, menyimak acara tv bisa dilakukan sembari membaca halaman ms.word atau yang lainnya di laptop.

Kondisi yang seperti itu, secara tidak langsung mempengaruhi kebiasaan saya. Saat pulang kerumah, saya kebingungan harus menonton acara apa di tv. Saking banyaknya atau saking tidak adanya yang menarik, jadi alasannya. Kalau sudah seperti itu, saya malah memilih bermain handphone daripada menonton televisi. Toh, media sosial seperti YouTube sekarang sudah lebih menarik.

Cerita lain, saat menikah, saya mendapatkan hadiah televisi dari teman kerja suami, (sebenarnya hadiah dari mereka adalah mesin cuci, tapi karena kami juga diberi mesin cuci oleh sepupu-sepupu saya, mesin cuci dari teman kerja suami, kami tukar tambah menjadi tv 😅) yang akhirnya kami taruh dikamar. Dan tv itu lebih sering mati, dari pada menyala. Kalaupun menyala, berarti untuk nonton film saja. Sesekali dipakai suami menonton pertandingan bola yang tidak disiarkan melalui Indovi**on. Jarang sekali kami gunakan benar-benar buat nonton acara televisi.

Hal ini sekarang saya syukuri sih. Saya tidak perlu lagi merasa kesepian saat tidak ada TV. Saya juga jadi terhindar dari sinetron-sinetron yang tidak jelas logikanya, atau berita-berita tidak berimbang. Seperti yang sekarang banyak dikabarkan, salah satunya, sebut saja adalah M*tr*TV😓. Sebagai gantinya, saya rutin mendengarkan radio. And i think its better, saya tetap bisa dapat informasi dan hiburan at the same time. Pilihan lain yang saya lakukan adalah membuka koran/majalah online. Walaupun tidak begitu terlalu sering, tapi cukup untuk keep eye open sama berita yang lagi in. Tapi, kalau lagi merasa perlu nonton acara TV tertentu, saya memanfaatkan streaming tv onlive. Dan ini saya lakukan jika dan hanya jika sedang ada koneksi wifi 😁

Jadi, bisakah hidup tanpa tv? Bisalah. Asal oksigen masih gratis dari Allah dan punya  kuota internet yang unlimited 😋

Hidup anak kost tanpa TV! 😎😆

 -------------------------------------------------------

Tulisan ini dibuat sesaat setelah  melihat banyaknya update-an tentang wasit yang katanya "buta" saat ada pertandingan sepakbola Indonesia-Vietnam malam ini. Dan saya, tentu saja tidak nonton pertandingannya. 😀 Duh, mending blogwalking deh, eh thesis-an harusnya 😌

You Might Also Like

0 comments