Gelap. Raksasa. Api.

03 Desember


Dahulu di tempat itu benderang. Cukup untuk melihat setiap detail. Tapi, kabut seakan terus menyerang. Memudarkan penglihatan yang kian kabur. Kabut terus meraja, seperti ada yang terus menguatkannya. Yang dahulu cerah kini tidak lagi. Gelap membutakan seakan tak ada apa-apa lagi. Padahal yang hilang hanyalah cahaya. Terkadang memang tampak sedikit binar, namun luntur, kalah lagi dengan kelam. Gelap kembali berjaya.


Sesosok mahluk yang dahulu terbelenggu kini bebas. Tubuh besarnya seakan butuh makan yang pasti tak sedikit. Mencari sedikit demi sedikit entah kapan kenyangnya. Terkadang memang terasa dia merasa kenyang namun lebih sering terasa lagi laparnya. Juga dahaganya. Semua makanan dan minuman itu menjadikannya lebih besar dan terus tumbuh besar. Raksasa besar kah nama yang tepat untuknya? Terasa janggal tapi dia memang raksasa yang besar dan kian membesar.

Ada juga sang panas. Juluki juga dia sebagai pemakan segala. Apa yang didekatnya, dilahapnya hingga habis. Bersisa debu yang siap terbang kemana angin. Dia panas dan jahat. Terkadang memang ada air, tapi kenapa merahnya tak kunjung padam?

Seumpama itulah prasangka buruk. Dia sanggup menggelapkan hati yang benderang, memakan sedikit demi sedikit pahala yang telah coba kita tanam, juga melahap tiap-tiap kebaikan yang hampir kita petik.

Kendalikan meski sulit. Kemudikan selagi mampu. Hati butuh sesuatu yang baik sedang prasangka buruk menjadi satu dari sekian tentangan.

------------------------------------------------ 

Menjadi catatan untuk diri sendiri. Mengingatkan jiwa yang terlampau jauh lupa diri. 

You Might Also Like

2 comments

  1. Semua memang butuh kendali dari diri sendiri untuk menjadi pribadi lebih baik

    www.extraodiary.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mba, setuju sekali ^^ semoga kita bisa melakukannya ya..

      thanks for coming here :) saya jalan2 ke blognya ya.. ^^

      Hapus