Kedai 28 - Cihampeulas Bandung : Pilihan Lain Anak Kostan

16 Desember

 

Salah satu screenshot yang saya save digaleri handphone saya adalah review dari @dunia_kulinerbdg tentang Kedai 28, yang salah satu cabangnya berada di Jalan Cihampeulas. Saya memang selalu melakukan ini untuk menyimpan referensi kuliner yang menurut saya memungkinkan untuk saya coba. Memungkinkannya adalah tentang harga dan tentang lokasi. Walaupun dekat atau bisa saya jangkau tapi harganya tidak bersahabat, its means no. Sebaliknya, harga oke tapi tempatnya sulit dijangkau, its means no too.
 
Kemarin (15.12) saya dan Dea mini tawaf di CiWalk  untuk melihat berbagai macam barang diskonan dari sore sampai malam.  Dan saat tiba jam makan, kami kebingungan untuk makan dimana. Saya jadi ingat salah satu list yang sudah saya ingin datangi, Kedai 28, which is tidak jauh dari CiWalk. Jadi kesanalah kami. Lalu lintas cukup macet malam itu, jadi kami putuskan untuk tetap memarkir motor di parkiran CiWalk dan jalan kaki menuju Kedai 28 itu. Cuma butuh kira-kira 10 menit untuk sampai.

Begitu sampai disana, kami jadi agak ragu untuk memesan. Karena semua meja kosong. Tapi karena sudah terlanjut masuk, dan teteh dan aa pelayannya sudah senyum-senyum jadi kami lanjut saja. Kami memilih tempat duduk ditengah-tengah yang bisa langsung melihat ke sisi jalan. Sebenarnya ada tempat lesehan yang lebih menarik backgroundnya untuk foto-foto, tapi kami terlalu malas untuk membuka sendal dan sepatuπŸ˜…. Dan saat kami mulai makan, akhirnya ada beberapa pengunjung lain.

Daftar menu dan catatan pesanan sudah berada dimeja. Ini waktunya berunding. Sebagai pecinta kuliner dengan budget terbatas, kami selalu mengusahakan memesan menu yang berbeda agar bisa coba lebih banyak. Akhirnya pilihan kami jatuh ke : Mie Iga Rawit Ijo Bakso Keju, Mie Iga Rawit Merah Baksi Telur, Es Campur, dan Es Tape Ketan Hitam.

Sambil menunggu pesanan, saya mengambil beberapa buku yang dijajarkan dirak dekat meja kasir. Tidak terlalu banyak memang, tapi pilihannya lumayan menggiurkan. 3 buah buku menjadi teman menunggu kami. Bukan untuk kami baca serius sih, tapi jadi properti buat foto ala-ala πŸ˜‹


Review Menu

Es Campur dan Es Tape Ketan Hitam-nya lumayan lah. Manisnya pas, porsinya pas, dan cukup lengkap isinya. Sayang, sagu mutiaranya, sepertinya sudah sempat dibekukan di freezer, jadi cukup aneh rasanya. Tidak kenyal lagi. Personal rate 8/10. 

Mie Iga Rawit Ijo dan Mie Iga Rawit Merahnya tidak berdusta kawans πŸ˜€ Benar-benar pakai iga yang dagingnya masih lumayan banyak. Mienya juga kenyal. Kalau dari ukurannya sih mirip udon, rada gede gitu. Bumbu yang kaya rempah kompak beradu dengan sambal yang ciamik rasanya. Baksonya juga besar dan padat. Dan yang paling saya suka adalah panas kuahnya pas. Ini perting sih bagi saya, pecinta panganan hangat berkuah. Personal rate 8.5/10. 

Untuk keempatnya kami menghabiskan Rp. 68.000. No tax!  See, its good for anak kostan right? 😁

Repurchase? YES.

Saat selesai makan, kami merasa kekenyangan. Masing-masing dengan dua porsi kudapan sepertinya lebih dari cukup untuk kategori sekedar kenyang. Tapi kalau ditawarkan makan kesini lagi, kami akan bilang YES!!

See you di cerita KikiKuliner lainnya ya..

Foto ala-ala kami

You Might Also Like

0 comments