Kata-kata yang Jadi Doa

27 November

بسم الله الرحمن الرحيم 

Suatu hari di jeda antar kelas, saya dan beberapa teman kampus duduk sambil ngobrol random. Entah siapa diantara kami yang mulai permbicaraan, hingga akhirnya tercetuslah suatu pertanyaan yang kami jawab secara bergilir. 
"Kalau selesai kuliah nanti, mau ngapain guys?
Berbagai macamlah jawaban-jawaban mereka. Ingin jadi ibu rumah tanggalah, ada yang mau pulang kampung dan jadi PNS, melanjutkan kuliah dan ada yang berencana kerja di Bank. Seingatku jawabanku adalah ingin melanjutkan kuliah dan kutambahkan "saya tidak mau kerja di Bank ah, pasti capek". Sempat ditimpali oleh mereka "tapi gajinya gede loh". "Ya daripada capek" jawabku sekenanya.

Beberapa bulan berikutnya, disiang yang aduhai benderang, dengan terpaksa ku datangi beberapa bank untuk memasukkan berkas lamaran pekerjaan. Silahkan tertawai hal ini tapi sebagai fresh graduate di kota yang "sederhana", ini  adalah pilihan yang cukup menjanjikan. Satu persatulah rangkaian test tulis, psikotest, dan wawancara ku jalani. Hasilnya? Semua gagal pemirsa. Ada yang ditahap awal beberapa ditahap-tahap akhir. Sedih dong ya. Saya merasa cukup mampu menyelesaikan test yang diberikan.Yakin malah. Tapi kenapa gagal?

Waktu berlalu. Saya dan tujuh teman saya berangkat ke Surabaya untuk melakukan test S2 di ITS. Kaget dengan cuaca Surabaya yang sangat panas, akhirnya saya sering mengeluh. Belum lagi dengan bahasa Jawa yang saya tidak paham kecuali "ngge yang artinya iya".  "Saya sepertinya lebih nyaman di Jawa Barat deh teman-teman, disana kayaknya tidak sepanas disini. Saya juga lebih ngerti bahasa Sunda" kataku di satu siang. Hari bergulir. Hari pengumuman tiba. There is no my name on list. Saya ditolak masuk ITS.

Dua kejadian diatas cukup membuat saya jadi sadar, jangan pernah salah omong. Karena perkataan adalah doa. Kalimat tidak ingin kerja di Bank akhirnya tanpa sadar menjadi doa untuk diri saya sendiri. Tak pernah lolos hingga tahap akhir sepertinya menjadi akibatnya.

Setali tiga uang, kalimat "lebih ingin di Jawa Barat" akhirnya menjadikanku benar-benar tidak berjodoh dengan kampus ITS Surabaya. Tapi sebagai gantinya, Allah mengizinkanku menempuh S2 di kota Bandung. Kampus Gajah ITB akhirnya menjadi pilihan dariNya. Walaupun dengan waktu yang cukup berjeda.

Oh iya, seya teringat sesuatu. Jauh sebelumnya saya sempat berpikir (dan dicekoki) bahwa sebaiknya pasangan kita adalah orang yang harus lebih dewasa. Sekitar 4-5 tahun lebih tua adalah ideal, menurutku. Saya cukup meyakini ini waktu itu. Apa yang terjadi? Ternyata jodoh saya adalah teman seangkatan which is yang saya hindari.😝 Kami bahkan (ternyata) sempat sekolah di SD yang sama dan mengambil les bahasa inggris di kelas yang sama juga. Umur kami cuma terpaut 3 bulan, lebih tua dirinya pasti. Dan Dia jauh lebih dewasa dari saya. Ternyata Allah tetap mengabulkan inginku untuk mendapatkan seseorang yang lebih dewasa secara pemikiran❤

Kini semakin yakinlah saya bahwa benar jika perkataan adalah doa. Berucaplah yang baik. Bukankah salah satu imam masjidil haram : Alfatih adalah "korban" dari perkataan ibunya. Ibunya yang sempat marah padanya akhirnya "memaki"nya dengan "pergilah engkau menjadi imam di masjidil haram". Terkabullah "marah" ibunya sekarang. Bertahun berikutnya. 

Tulisan ini hanya sebagai pengingat diriku sendiri ya. Menjadi note to my self. Semoga terus dapat berkata yang baik. Aamiin.👼

You Might Also Like

0 comments