Mappacing : Penuh Air Mata

26 November

Malam ini sedang berlangsung acara malam mappacing adik sepupu saya di Kendari. Karena sedang berada dirantau maka saya tidak bisa mengikuti acaranya secara langsung. Saya cuma melihatnya sedikit rangkaian acaranya melalui photo dan video yang digrub whatsapp keluarga kami. 

Begitu selesai terdownload, saya pun mulai memutar video yang durasinya cuma 59 detik itu. Singkat sekali. Tapi, dengan durasi yang hanya kurang satu detik genap menjadi satu menit tersebut, saya berhasil menitikkan air mata. Tangis kecil ini ada karena perasaan haru, sedih dan senang yang bersamaan. Rasanya tiap kali melihat penggalan acara mappacing, saya pasti ikut menangis. 

Saya teringat malam mappacingku hampir setahun lalu. Malam itu saya duduk di dalam lamming yang sungguh sangat Bugis. Didampingi Ibu dan Nenek Aji, saya menengadahkan tangan diatas 7 lembar daun nangka dan daun pisang serta 7 buah lapis sarung dengan bentuk lipatan khusus yang disimpan diatas bantal. Ada beras, daun pacar (yang sudah ditumbuk juga yang masih  berbentuk daun) dan lilin dihadapan saya. Setelah selesai pembacaan Alquran, dimulailah acara mapaacing tersebut. Bergantian orang-orang tua memberikan pacci di tanganku (beberapa lainnya di pipi dan kening) sambil mendoakan. Prosesi ini sungguh sangat mengharukan. Tak terbilang berapa kali saya mencoba menahan dan kemudian akhirnya menghapus air mata yang berhasil jatuh. Terlebih jika yang sedang memberikan doa itu adalah orang yang sangat kita sayangi dan hargai. Rasanya ingin berkompromi sebentar dengan air mata supaya tidak terlalu deras. Acara masih panjang dan makeup sudah hampir habis pikirku. Sempat ya saat itu saya memikirkan hal ini?💬
 

Saat paling saya takuti akhirnya datang. Yah, saya memang takut. Saya takut tidak bisa menahan air mata yang pasti akan tumpah ruah. Dan juga karena saya mengenal persis bagaimna tubuhku. Saya bisa sampai sulit bernafas jika sedang menangis. 

Bismillah. Ayah dan Ibu sudah berada dihadapan saya. Belum juga mereka berdoa, saya sudah mulai menagis. Saat ini saya tulispun, mataku mulai berkaca-kaca. Ibu memulainya lebih dahulu. Doa dipanjatkannya. Rasanya sudah sampai sepuluh tetes air mata yang jatuh. Ibu mulai menaruh pacci ditangan dan keningku. Itu rasanya haru sekali, Sungguh. Jika ada wanita bugis yang sanggup melewati hal ini tanpa menagis, mungkin dia benar-benar tangguh untuk menahan grafitasi bumi. Kepeluk dengan erat Ibu saat dia mendekatkan tubuhnya. Disinilah kuminta dengan sangat restunya, ku minta doa terbaiknya, ku minta ikhlasnya, ku minta semuanya yang baik darinya. Ibu menciumku hingga berulang. Pun dengan diriku. Kubalas ciumnya dengan penuh rasa berdosa. Sekelibat rasa bersalahku penuh karena masih banyak salahku padanya. Ku peluk Ibu sekali lagi dan air mata belum saja habis.


Giliran Ayah. Rasanya saya sudah cukup lemas karena menangis disini. Begitu ayah meletakkan pacci ditanganku, rasa lemas sudah tak terasa lagi. Yang ada hanya rasa haru yang begitu dalam. Rasa haru yag diserai rasa bersalah yang tak kalah banyak. Dalam peluknya ku mohon doanya. Kumohon restunya. Komohon ihlasnya. Ayah memelukku dengan sangat erat. Bukan rasa sesak ku dapati, tapi rasa nyaman yang sungguh sangat. Ku cium pipi ayah dengan sesenggukan. 
 

Setelah mereka bergantianlah adik-adikku mendoakanku didepan lamming itu. Diikuti tante-tante mudaku (karena yang berumur sudah lebih dahulu) dan para sepupu. Terakhir sahabat-sahabatku. Sungguh membahagiakan rasanya mendapatkan banyak doa malam itu. 

Begitulah malam mappacing. Hampir semua wanita bugis akan melewatinya saat akan menikah. Jika boleh jujur, ini lah saat tersedih dari seluruh rangkain acara pernikahanku. Tradisi ini penuh dengan makna. Kalian bisa mampir di mesin pencari terbaik zaman ini untuk mengetahuinya lebih dalam 😀

Ayah Ibu  tetaplah sehat. Dampingi adik-adikku serta cucu kalian saat mapacci juga nanti ya.. 😇


Bandung, 26 November 2016
Btw, Happy Wedding Mega, Semoga Sakinah Mawaddah Warahmah dek. Semoga Allah memberi keberkahannya pada keluargamu. Aamiin. 

Lamming : Tempat yang khusus bagi pengantin dan kedua orang tua mempelai dalam baruga.

You Might Also Like

0 comments