Cukup Karena Butuh

25 November

Semoga keadaanku yang seperti sekarang ini menjadikanku terus berprinsip seperti ini. Rasanya makin kesini, saya semakin banyak pertimbangan ketika hendak memiliki/membeli sebuah barang tertentu. Apa mungkin karena sekarang sudah menjadi seorang istri ya? Hemat sudah menjadi kewajiban.

Dulu rasanya, hampir setiap bulan akan ada tambahan satu atau dua item di lemari. Baik gamis atau kah jilbab dan sejenisnya. Sekarang sepertinya sudah tidak. Kalaupun sedang suka sekali dengan satu barang, pada akhirnya saya cukup tahu harganya dan menaruhnya dalam list wish to buy. Yak, sebagian besar berakhir menjadi sekedar wish semata. Pertimbangan "harus sekarang kah?", "pentingkah? atau "butuhkah?" akhirnya repeated dengan sendirinya diotakku. 

Sebenarnya ini saya syukuri, walaupun rasanya terlambat ya? But better late than never, right? Mungkin karena sekarang saya semakin menyadari, uang itu tidak dengan mudah didapatkan. Kemarin-kemarin rasanya terlalu gampang saya mengeluarkan untuk sesuatu yang tidak sedemikian penting. 

Semoga ini terus berlanjut. Terus menilai sesuatu dari kebutuhan saja. Tidak tergiur untuk mengoleksi. Kalau masih cukup dengan satu jam tangan tak perlu punya dua. Kalau cukup dengan satu pasang sepatu olahraga, kenapa harus punya dua. Kalau handphonenya masih layak digunakan, kenapa perlu cepat-cepat diganti. Benar apa betul? 😀

🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽🔽 🔽🔽🔽

*Ditulis saat sedang menginginkan handphone baru dan tetap berpikir handphone yang ada  masih sangat bisa digunakan.

You Might Also Like

0 comments